Mengenang dan Mengenal Yasser Arafat, Pahlawan Pembebasan Palestina

Yasser Arafat, pimpinan pejuang pembebasan dan kemerdekaan Palestina.

AGRESI militer kembali pecah di jalur Gaza antara Palestina dengan Israel di bulan Mei 2021. Kisah klasik pertikaian dua bangsa di Timur Tengah itu pun seolah tak ada matinya alias tak kunjung selesai.

Apalagi aksi pengeboman Israel terhadap gedung-gedung vital di Gaza Palestina yang kemudian dibalas rudal-rudal pejuang Hamas Palestina yang terjadi di momen hari raya umat Islam (Idulfitri) 13 Mei 2021, kian menjadi sorotan dunia.

Terkait Palestina, negara sekaligus bangsa yang resmi meraih kemerdekaannya sejak tahun 1988 ini, memang memiliki sejarah panjang yang menarik.

Apalagi, sejak 2016 hingga 2021, nama negara Palestina malah ‘hilang’ dari peta Google Maps.

Bacaan Lainnya

Selain itu, ada sosok fenomenal di balik sejarah perjuangan pembebasan Palestina dari cengkraman bangsa tetangganya sendiri yaitu yahudi Israel.

peta google maps tahun 2021

Yasser Arafat

Pembebasan tanah Palestina atas Israel tak bisa dilepaskan dari nama Yasser Arafat. Dialah Presiden pertama Palestina sejak nama Palestina pertama kali diproklamirkan pada 15 November 1988.

Yasser Arafat yang juga pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dipilih Dewan Pusat Nasional Palestina sebagai badan tertinggi PLO untuk menjadi Presiden Palestina yang pertama pada 2 April 1989.

Sebelum dinobatkan sebagai presiden pertama Palestina, visi misi PLO di bawah kepemimpinan Yasser Arafat kala itu adalah ‘menggasak’ Israel demi tujuan adanya dua batas wilayah entitas berbeda.

Yaitu  sebuah negara Israel dengan garis perbatasan berdasarkan tahun 1949, sebuah negara Arab di Tepi Barat, dan Jalur Gaza.

Nama lengkap pria yang identik dengan sorban khas alias keffiyeh atau shemagh di tanah Arab ini adalah Muhammad Yassir Abdul Rahman Abdul Rauf Arafat al-Qudwa.

Arafat lahir 24 Agustus 1929 di Kairo, Mesir. Arafat adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Hanya dia dan seorang adiknya bernama Fathi yang dilahirkan di Kairo.

Darah Palestinanya berasal dari sang ayah, Abdel Raouf al-Qudwa al-Husseini, seorang Palestina dari Kota Gaza. Sementara sang Ibu, Zahwa Abul Saud, berasal dari Yerusalem.

Tak ada keterangan pasti mengapa keluarga Arafat bisa berada di Mesir dan ia dilahirkan disana. Wacana yang ada hanya disebutkan kemungkinan keluarga Arafat merupakan eksodus Palestina atau merantau ke Mesir.

Dari keterangan saudara perempuan Arafat, Inam, kepada sejarawan Inggris Alan Hart, mengatakan Arafat di masa lalu punya hubungan buruk dengan ayahnya.

Ayahnya dikatakan sering memukul Arafat gara-gara selalu mengunjungi permukiman Yahudi di Kairo. Saat ditanya ayahnya apa alasannya, Arafat mengaku ingin mempelajari mentalitas orang-orang Yahudi.

Perjuangan dari kampus

Arafat yang sarjana teknik sipil dari universitas ternama di Mesir ini mengawali perjuangannya dari gerakan perlawanan milisi militer sejak masih mahasiswa.

Dimulai saat Perang Arab-Israel 1948, Arafat meninggalkan kampus dan berusaha memasuki Palestina bersama pemuda-pemuda Arab lainnya.

Ia bergabung dengan pasukan Arab yang sedang bertempur melawan tentara Israel. Ia bergabung dengan kelompok pejuang Ikhwanul Muslimin dan ikut dalam pertempuran di sekitar Gaza (yang menjadi padang tempur utama pasukan Mesir selama perang).

Tapi keadaan yang tidak menguntungkan, ia memilih kembali ke Kairo dan melanjutkan kuliah dan terpilih menjadi ketua umum Persatuan Mahasiswa Palestina dari tahun 1952 hingga 1956.

Saat itu Arafat telah menyandang gelar sarjana teknik sipil dan dipanggil ikut bertempur bersama pasukan Mesir pada konflik terusan Suez.

Kelompok FaTah

Semangat perjuangannya membebaskan rakyat Palestina dari Israel mengerucut. Arafat mendirikan gerakan perjuangan bernama FaTah setelah krisis Suez 1956 di Kuwait.

Di Kuwait Arafat bertemu dengan 2 orang Palestina lainnya, Abu Iyad dan Abu Jihad, yang kelak menjadi tangan kanannya di kancah politik dan masa perjuangan Yasser Arafat hingga wafatnya.

FaTaH adalah akronim terbalik dari nama “Arab Harakat al-Tahrir al-Watani al-Filastini” yang berarti “Pergerakan Pembebasan Nasional Palestina”.

Kata “Fatah” juga merupakan kata yang digunakan pada masa-masa kekhalifahan Islam yang berarti penaklukan (bahasa Arab).

Arafat mendirikan Fatah sebagai alat perjuangan yang jauh berbeda dengan faksi-faksi perjuangan Palestina sebelumnya.

Tujuan Fatah adalah membebaskan Palestina lewat perjuangan bersenjata yang dilakukan oleh orang-orang Palestina sendiri.

Sejak pendirian Fatah, Arafat tidak hanya memimpin langsung pertempuran bersenjata tapi juga merekrut dan menggalang dana dari orang-orang Palestina yang sukses di luar Palestina.

Namun keberadaan Arafat dan Fatah baru dikenal luas dunia internasional pada saat perang Karameh.

Sepanjang tahun 1968, Arafat dan kelompoknya Fatah menjadi sasaran gempuran tentara Israel di Desa Karameh, wilayah Yordania.

Pasukan Fatah mampu bertahan di Karameh yang membuat Israel tercengang. Peristiwa itu diliput secara mendetail oleh media TIME dan wajah Arafat muncul di sampul edisi 13 Desember 1968.

Kemunculan Arafat di TIME memicu popularitas dirinya dan kelompoknya ke pentas dunia. Arafat digambarkan sebagai seorang pahlawan nasional yang berani menghadapi Israel.

Pasca kekalahan negara-negara Arab dari Israel dalam Perang Enam Hari tahun 1966, orang-orang Palestina tertarik dengan visi Fatah dengan perjuangan Palestina oleh rakyat Palestina.

Pamor ini membuat organisasi pembebasan Palestina (PLO) di tahun 1967 mengajak Arafat bergabung di PLO. Kelompok Arafat, Fatah, pun mendapat 33 dari 105 kursi di Komite Eksekutif.

Setelah bertahun-tahun berjibaku dengan perang tanpa henti dengan Israel, akhirnya PLO memproklamirkan kemerdekan Palestina.

Proklamasi Palestina itu juga mengubah arah perjuangan Arafat dan PLO dari menghancurkan entitas Zionis Yahudi dan membebaskan rakyat Palestina,

menjadi mengakui keberadaan negara Israel sebagai entitas seperti pengakuan yang sama diharapkan bagi bangsa Palestina.

Usaha perdamaian dan bisa hidup berdampingan dengan Israel membuat Arafat diganjar hadiah Nobel Perdamaian tahun 1994 bersama Perdana Menteri Yitzhak Rabin dan Shimon Peres.

Wafat di Perancis

Walaupun dianggap melunak dengan Israel atas pertimbangan demi kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik bagi rakyat Palestina, Arafat tak betul-betul melunak.

Presiden Arafat kala itu tak segan-segan membalas perlakuan tentara Israel jika menyerang rakyat dan kedaulatan Palestina.

Apalagi ketika Israel dipimpin Benyamin Netanyahu yang menolak mengakui negara Palestina, tensi kedua negara memanas.

Pemimpin Israel berikutnya yaitu Ariel Sharon memerintahkan pengepungan terhadap Arafat di Ramallah, ibukota Palestina.

Dalam masa pengepungan itu, 25 Oktober 2004, kesehatan Arafat dilaporkan kian menurun. Pada 3 November 2004, Arafat dilarikan ke rumah sakit di negara Prancis.

Tak kunjung pulih, pada 11 November 2004 Arafat dinyatakan meninggal dunia dalam usia 75 tahun.(iar)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *