Suasana sore itu bukan hanya dipenuhi dengan teriakan massa, tapi jalanan di Jl Masjid Raya mendadak menjadi panggung yang memperlihatkan dua wajah kehidupan. Di satu sisi ada barisan demonstran yang berapi-api menyuarakan aspirasi.
Di sisi lain, ada wajah-wajah tabah para pedagang kecil yang justru menemukan rezeki dari keramaian yang sesaat itu berubah menjadi pasar dadakan.
Puluhan aparat kepolisian dan TNI berjaga rapat, membentuk pagar betis untuk mengantisipasi kemungkinan yang tak diinginkan. Namun, di balik ketegangan itu, asap gorengan mengepul, aroma kopi sachet menyeruak, dan es krim. Pedagang kecil itu seperti punya dunia sendiri, dunia di mana perut pembeli lebih berbicara daripada orasi.
“Meski berada di tengah para pendemo, kami tetap bertahan mengais rezeki. Pembeli lumayan banyak,” kata Ikra, seorang penjual es krim yang kerap mangkal di depan Masjid Agung SyekhYusuf, Gowa.
Dengan sepeda kecilnya yang dimodifikasi menjadi gerobak es, ia menyusuri kerumunan, menantang panas dan sesekali dorongan massa.
Bagi Ikra, kehadiran demonstrasi justru membawa berkah. Anak-anak muda yang kehausan setelah berjam-jam berorasi, aparat yang berdiri berjam-jam di bawah terik matahari, hingga wartawan yang sibuk meliput, menjadi pelanggan dadakan.
“Biasanya kalau jualan di sekolah atau taman, kadang tidak seramai ini. Kalau ada demo, es krim cepat habis,” ujarnya sambil tersenyum.
Tidak jauh dari tempatnya berdiri, seorang ibu paruh baya tampak sibuk membungkus gorengan. Pisang goreng, jalangkote, dan ubi goreng laris manis diborong massa. Tangannya cekatan, seperti sudah terbiasa dengan kondisi berdesakan.
“Saya ini ibu rumah tangga, kalau ada demo di depan DPRD, saya pasti datang. Lumayan, bisa dapat uang tambahan untuk belanja dapur,” tuturnya.
Demonstrasi yang bagi sebagian orang penuh risiko, bagi mereka justru adalah kesempatan. Mereka tahu betul bahwa di tengah keramaian, selalu ada perut yang lapar dan tenggorokan yang haus.
Di balik kisah pedagang, ada sisi lain yang jarang terlihat. Mereka sebenarnya sadar, berada di tengah situasi rawan bukan tanpa risiko. Gas air mata bisa tiba-tiba melayang, dorongan massa bisa menimpa gerobak kecil mereka, atau bahkan barang dagangan bisa rusak kalau suasana ricuh. Namun tekad mereka lebih besar.
“Kalau takut, mau makan apa anak-anak di rumah?” kata Daeng Lala, penjual kopi keliling.
Kisah para pedagang di tengah demonstrasi ini adalah potret nyata bagaimana rakyat kecil selalu mencari celah untuk bertahan. Mereka adalah saksi bisu yang melihat teriakan, spanduk, dan negosiasi, tapi tetap menunduk fokus pada dagangan. Bagi mereka, politik mungkin terasa jauh, tapi isi dapur adalah urusan sehari-hari yang tak bisa ditunda.
Sore itu, ketika matahari mulai condong ke barat, kerumunan perlahan bubar. Suara orasi berganti dengan deru kendaraan yang kembali memenuhi jalan raya. Para pedagang pun bersiap pulang dengan kantong yang lebih berat dari biasanya. Lelah mereka terbayar, meski harus berdiri di bawah terik dan berada di antara barisan demonstran.
Demonstrasi boleh saja menjadi panggung perjuangan, tetapi bagi pedagang kecil, ia adalah panggung perjuangan hidup. Di sanalah mereka membuktikan, bahwa rezeki bisa datang dari mana saja, bahkan dari keramaian yang penuh risiko.
Dan di balik setiap kepulan asap gorengan, setiap es krim yang lumer, tersimpan doa agar besok tetap ada kerumunan baru yang bisa mendatangkan rezeki.(*)







