Dinkes Makassar Perkuat Tracing TBC, TPT Kontak Serumah Jadi Perhatian

MAKASSAR, SOLUSINEWS.ID — Dinas Kesehatan Kota Makassar memperkuat upaya penanggulangan Tuberkulosis (TBC) melalui tracing secara masif yang diintegrasikan dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Gerakan tersebut menyasar 339 titik di seluruh wilayah Kota Makassar dan menjadi bagian dari strategi mempercepat penemuan serta penanganan kasus TBC.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr. Nursaidah Sirajuddin, M.Kes, mengatakan penguatan tracing diperlukan karena masih terdapat kesenjangan dalam sejumlah indikator penanggulangan TBC. Salah satu yang paling menjadi perhatian adalah cakupan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak serumah. Hingga evaluasi program 2026, baru 516 orang dari target 72.240 kontak serumah yang menerima TPT atau sekitar 0,71 persen.

“Yang menjadi kendala di Kota Makassar yang sangat rendah adalah cakupan pemberian TPT atau terapi pencegahan tuberkulosis kontak serumah,” ujar Nursaidah dalam rangkaian kegiatan penguatan program tracing TBC yang terintegrasi dengan CKG, Selasa (11/8/2026).

Untuk penemuan terduga TBC, Nursaidah menyebut dari target 48.763 orang pada 2026, sebanyak 27.851 orang telah ditemukan atau mencapai 57,11 persen. Sementara target penemuan kasus TBC terkonfirmasi sebanyak 9.030 kasus, dengan realisasi 5.556 kasus atau 61,53 persen. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan skrining aktif maupun pasif telah berjalan, namun masih terdapat masyarakat yang belum tersaring.

Bacaan Lainnya

Di sisi pengobatan, Dinkes Makassar mencatat 4.578 pasien atau 82,40 persen telah menyelesaikan pengobatan secara adekuat. Meski relatif baik, capaian tersebut masih di bawah standar nasional minimal 90 persen. Karena itu, penguatan pendampingan pasien selama masa pengobatan menjadi perhatian untuk mencegah putus obat, retensi pengobatan, maupun kematian.

Nursaidah menegaskan, Dinkes Makassar akan memperkuat investigasi kontak di seluruh puskesmas dengan melibatkan kader kesehatan, komunitas, fasilitas kesehatan swasta, klinik, dan rumah sakit. Edukasi kepada keluarga pasien juga ditingkatkan agar masyarakat memahami pentingnya TPT sebagai langkah pencegahan agar orang yang telah terpapar tidak berkembang menjadi TBC aktif.

Selain itu, skrining aktif akan diperluas ke kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi, tempat kerja, rumah tahanan atau lembaga pemasyarakatan, serta kelompok berisiko seperti lansia, penyandang diabetes melitus, dan kelompok dengan HIV. Penguatan retensi pengobatan juga dilakukan melalui peningkatan peran Pengawas Menelan Obat (PMO) serta pemanfaatan teknologi komunikasi, termasuk pengawasan berbasis WhatsApp.

“Kita memperkuat kolaborasi dalam penanggulangan tuberkulosis. Langkah ini diharapkan memperluas jangkauan penemuan kasus, mempercepat penanganan, dan mencegah penularan lebih luas,” pungkas Nursaidah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *