SOLUSINEWS.ID — Perkumpulan dokter Eropa mengeluarkan pernyataan Virus Corona baru atau Covid-19 tidak memiliki efek berbahaya, viral di media sosial.
Informasi tersebut tersebar berantai pada aplikasi percakapan WhatsApp juga dibagikan di Facebook.
Berikut informasi pernyataan perkumpulan dokter Eropa tentang Covid-19 tidak memiliki efek berbahaya:
“Para kumpulan dokter ahli, ilmuwan dan pengacara di Eropa 10 october 2020 mengeluarkan statement perihal Covid 19,,bahwa hasil penyelidikan mereka selama ini,Covid19 adalah penuh kebohongan, rekayasa dan membuat orang punya rasa takut,kehilangan pekerjaan , usaha dan dukungan keungan,,,ini adalah karya setan,,hasil penyilidikan mereka selama ini Covid 19 tdk seperti yg di beritakan hangat di media saat ini, mereka akan tuntut dan investigasi orang yg bekerja sama membuat kekacauan dan situasi ekonomi yg buruk saat ini dan minta tdk ada lagi istilah new normal,,krn Covid 19 tdk memiliki efek yg berbahaya seperti di beritakan selama ini,,mereka minta pemerintah hrs mengembalikan kedaan seperti kedaan semula, tidak ada lagi istilah new normal dan pengunaan masker, jaga jarak dan hal lain yg berhub dengan situasi Covid saat ini,,ini statement dan Videonya,,
Watch Censored WORLD DOCTORS ALLIANCE Announce Lawsuit Against COVID-19 Global LockdownWatch Censored WORLD DOCTORS ALLIANCE Announce Lawsuit Against COVID-19 Global LockdownOriginal Link https://www.youtube.com/watch?v=DZitDEI7EgM A meeting hosted by Heiko Schöning to introduce the World Doctors Alliance (WDA) in Berlin, Germany on 10th October 2020. Speakers in order of appearance are: HEIKO SCHÖNING, M.D. Doctor an”
Informasi tersebut dilengkapi dengan sebuah tautan YouTube, namun tautan tersebut sudah tidak aktif.
Benarkah pernyataan perkumpulan dokter Eropa tentang Covid-19 tidak memiliki efek berbahaya?
Menelusuri pernyataan perkumpulan dokter Eropa tentang virus Covid-19 tidak memiliki efek berbahaya menggunakan Google Search dengan kata kunci ‘A group of expert doctors, scientists and lawyers in Europe 10 October 2020 issued a statement regarding Covid 19’.
Penelusuran mengarah pada artikel berjudul “Doctors in Video Falsely Equate COVID-19 With a ‘Normal Flu Virus’” yang dimuat situs Factcheck.org, pada 21 Oktober 2020.
Artikel itu menyebutkan sebuah video yang diposting oleh sekelompok orang yang berbasis di Eropa bernama World Doctors Alliance mengklaim bahwa virus corona baru adalah virus flu biasa dan tidak ada pandemi Covid-19.
Faktanya, Covid-19 lebih mematikan daripada flu musiman dan beberapa negara Eropa sedang memerangi gelombang kedua kasus tersebut.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, saat ini masih pandemi Covid-19, dengan jumlah kasus dan rawat inap yang meningkat dan membebani kemampuan pusat medis di beberapa daerah untuk mengatasinya.
Adapun, beberapa pemerintah di negara Eropa telah memberlakukan lebih banyak pembatasan untuk melawan gelombang kasus lainnya.
Namun Heiko Schöning, seorang dokter Jerman dan kepala kelompok yang dikenal dengan akronim Jerman ACU2020 mengumumkan pembentukan organisasi bernama World Doctors Alliance untuk menantang kebenaran pandemi Covid-19, pada 10 Oktober 2020.
Dalam situs web aliansi tersebut mengklaim bahwa pandemi telah berakhir tepatnya sejak Juni 2020.
Video berdurasi 18 menit mengenai mengumumkan pembentukan grup itu telah diposting di situs ACU2020 ke Youtube.
Namun telah dihapus oleh YouTube karena melanggar persyaratan layanan. Tetapi, bagian dari video yang menampilkan dua dokter yang menantang ilmu pengetahuan di balik pandemi beredar di Facebook dengan pernyataan dan statistik yang salah.
Demi mempertahankan posisi kelompok tersebut, Elke De Klerk, seorang dokter umum Belanda mengatakan dalam video, “Kami tidak memiliki pandemi.” Ia juga menyebut Covid-19 sebagai virus flu biasa.
Klaim tersebut ditolak oleh WHO, CDC dan ahli lainnya.
Elke De Klerk juga mengklaim penunjukkan pandemi didasarkan pada pengujian yang buruk, yaitu dengan reaksi berantai polimerase atau PCR, uji molekuler yang menghasilkan positif palsu pada 89 hingga 94 persen kasus. Itu tidak benar.
Sementara angka positif palsu tetap menjadi area pemeriksaan lanjutan, studi pendahuluan menunjukkan angka positif palsu tes ini jauh lebih sedikit daripada klaim itu.
Dalam sebuah artikel yang dipublikasi media Inggris ‘The Lancet Respiratory Medicine’, mengatakan taksiran angka positif Covid-19 di Inggris di kisaran 0,8 hingga 4 persen, sementara negatif palsu bisa mencapai 33 persen.
Adapun virus yang menyebabkan Covid-19, para ilmuwan secara universal setuju itu adalah virus korona baru, SARS-CoV-2, bukan jenis influenza.
Meskipun tingkat kematian karena covid-19 masih belum pasti, bukti menunjukkan bahwa kematian akibat Covid-19 itu lebih tinggi daripada influenza musiman.
Di negara Elke De Klerk, Belanda, ada lebih dari 6.800 kematian yang dikaitkan dengan covid-19 sepanjang tahun ini. Lebih tinggi jika dibandingkan dengan 2.900 karena flu dan pneumonia pada 2018 dan 2019.
Di AS, Covid-19 juga telah menyebabkan lebih dari 220 ribu kematian dan membuat musim flu terburuk dalam dekade terakhir yang menewaskan sekitar 61 ribu orang pada 2017-2018.
Faktanya, Covid-19 sejauh ini telah membunuh lebih banyak orang di AS bila dibandingkan dengan gabungan (jumlah kasus dalam) lima musim flu terakhir, dan ratusan lainnya meninggal setiap hari.
Selain itu, sebuah studi CDC yang dirilis pada 20 Oktober 2020, menemukan pasien yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 di Administrasi Kesehatan Veteran memiliki risiko kematian lima kali lebih tinggi daripada pasien flu.
Berdasarkan pembicaraan lain dalam video yang beredar di Facebook adalah Dolores Cahill, seorang profesor di Fakultas Kedokteran University College Dublin di Irlandia.
Ia juga telah menyangkal Covid-19. Ia mengklaim dalam video itu hanya ada 98 kematian di Irlandia karena virus corona sejak April 2020.
Tetapi menurut Kantor Pusat Statistik Irlandia, lebih dari 1.800 orang telah meninggal karena Covid-19 di negara itu.
Dengan kasus-kasus yang terus meningkat, pemerintah Irlandia mengumumkan pada 19 Oktober 2020, bahwa mereka memberlakukan pembatasan baru yang keras untuk memperlambat penyebaran Covid-19.
Langkah-langkah tersebut dilakukan hingga 1 Desember 2020.
Bisnis retail (non pokok), tukang cukur, penata rambut, dan salon harus menutup dan melarang pertemuan di rumah. Restoran dan pub juga akan dibatasi untuk layanan antar-jemput dan pengiriman.
Dolores Cahill mendapat kecaman dari kedua universitas, yang mengeluarkan pernyataan untuk mengundurkan diri dari panel medis Uni Eropa.
Pernyataan perkumpulan dokter Eropa tentang Covid-19 tidak memiliki efek berbahaya tidak benar.
Faktanya, Covid-19 lebih mematikan daripada flu musiman dan beberapa negara Eropa sedang memerangi gelombang kedua kasus tersebut, seperti dilansir dari laman Cek Fakta Liputan6.com, Selasa (27/10/2020).
Sementara itu, Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito dengan tegas membantah klaim tersebut.
Disebutnya, apa yang disampaikan dalam video viral tersebut adalah misinformasi dan ditegaskan bahwa Covid-19 sama sekali berbeda dengan influenza.
Jadi siapa yang diwakili oleh Aliansi Dokter Dunia?
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH lebih tegas menyebut Aliansi Dokter Dunia sebagai organisasi ‘jadi-jadian’.
Sebagai senior yang malang melintang di berbagai organisasi kedokteran, ia tidak pernah mengenal organisasi tersebut.
“Kan ada ikatan dokter, misalnya di bidang penyakit dalam ada International Society of Internal Medicine, Indonesia juga masuk ke dalam situ. Kemudian World Medical Association. Jadi itu nggak ada kita kenal di dalam organisasi, baik itu dokter dunia maupun dokter penyakit dalam dunia,” jelasnya.
Namun yang pasti, ditegaskan bahwa klaim yang disampaikan Aliansi Dokter Dunia dalam video yang viral tidak sesuai dengan fakta.
Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Prof Dr dr Zubairi Djoerban SpPD(K) mengakui memang ada sebagian kecil dokter yang meragukan Covid -19.
Namun pada umumnya, tidak didasari data ilmiah yang jelas.
“Bahwa total yang meninggal saja sudah sejuta lebih. Indonesia juga kita sudah melihat langsung dokter-dokter yang meninggal dan meninggalnya sudah makin banyak.
Pada prinsipnya kami dokter itu kalau ngomong harus berbasis bukti ilmiah dan itu tidak didukung oleh bukti ilmiah,” ujarnya, mengutip detikcom. (*)







