LEANG LEANG, SOLUSINEWS.ID – Festival Gau Maraja Tahun 2025 sukses terlaksana dengan baik dan menarik di Kabupaten Maros sebagai rangkaian perayaan Hari Jadi Maros ke-66 Tahun.
Ribuan peserta termasuk pengunjung menghadiri dan berpartisipsi dalam ajang budaya yang dimeriahkan 12 rangkaian acara berbeda ini. Atensi bukan hanya datang dari masyarakat lokal namun juga dari luar negeri.
Sebelumnya, pembukaan Festival Gau Maraja dilaksanakan Lapangan Pallantikang Maros dimana pembukaan dilakukan oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon.
Puluhan perwakilan negara turut memeriahkan festival ini. Kehadiran peserta dan pembicara dari 20 negara menjadi agenda hari kedua dan ketiga yang dilaksanakan di Gedung Serbaguna Pemkab Maros, 4-5 Juli 2025.

Puncak acara penutupan berlangsung di Taman Arkeologi Leang-leang Maros yang menyajikan sejumlah atraksi seni dan budaya yang meriah.
Beberapa lomba juga digelar sebelum penutupan antara lain Lomba Lagu Daerah yang digelar dua hari sebelum acara penutupan.
Selain itu, Lapangan Pallantikang juga diisi dengan kegiatan ekonomi kreatif berupa pameran UMKM sekaligus menjadi wadah promosi dan penjualan produk yang ditawarkan.
Anggota Panitia Pengarah dan Divisi Review dan Publikasi, Ismail Suardi Wekke, menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan semua masyarakat Maros dan sejumlah mitra penyelenggara kegiatan.
Kegiatan Festival Gau Maraja dilaksanakan bersama Kementerian Kebudayaar RI, Perkumpulan Wija Raja La Patau Matanna Tikka (PERWIRA LPMT), Pemerintah Kabupaten Maros, Universitas Hasanuddin, BPP Kerukunan Keluarga Sulsel.

Festival Gau Maraja mengusung tema “Maju dan Berkembang sebagai Potensi Adat dan Budaya”.
Pada acara pembukaannya, sekaligus malam puncak acara Hari Jadi ke-66 Kabupaten Maros, dirangkai peluncuran program pada kawasan situs prasejarah Leang-Leang sebagai Taman Arkeologi di Sulsel.
Menbud RI Fadli Zon yang hadir di acara itu, memuji inisiatif pelestarian budaya yang digagas Pemkab Maros.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara budaya, alam, dan partisipasi generasi muda dalam menjaga identitas bangsa.
“Leang-Leang sebagai Taman Arkeologi memegang peranan penting dalam mendukung identitas Indonesia sebagai negara megadiversity. Kita harus merawat nilai budaya karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan akarnya,” katanya.
Sementara Bupati Maros, Chaidir Syam, juga menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya dan adat istiadat sebagai warisan kemanusiaan, seraya menyambut hangat para tamu.
“Selamat datang di tanah yang merawat nilai kemanusiaan dalam adat istiadatnya. Tanah yang mendewakan tamu dan menghargai siapa saja yang datang,” ujarnya.
Hadir pula Wakil Gubernur Sulsel Fatmawati Rusdi yang mengucapkan selamat atas Hari Jadi Maros. Ia mengharapkan agar peringatan Hari Jadi Maros lebih dari sekadar seremoni.
“Melainkan sebuah momentum reflektif untuk menata masa depan daerah secara lebih inklusif dan berkarakter,” ujarnya.
Festival Gau Maraja dimeriahkan dengan berbagai atraksi seni tradisional antara lain pameran Bilah Pusaka Nusantara dan lokakarya edukasi budaya.
Ratusan pelajar menampilkan pertunjukan kolosal seperti Tari Pepeka ri Makka, silat tradisional, dan tari kolosal khas Maros yang memukau ribuan pengunjung.
Tokoh adat Maros, Kareang Turikale AA Mapparessa Daeng Manimbang menyampaikan petuah bijak dalam bahasa adat, “Bercocok tanamlah di hati manusia, karena hati manusia itu suci dan jujur, tak akan pernah berbohong.”
Pesan itu bermakna sebagai ajakan untuk menanamkan kebaikan di hati sesama, karena dari sanalah kebenaran tumbuh dan kebaikan akan selalu kembali kepada pelakunya.
Festival ini ditutup dengan harapan besar agar Maros menjadi kabupaten yang maju, berbudaya, dan berdaya saing global, sejalan dengan visi “Sulsel Maju dan Berkarakter menuju Indonesia Emas 2045.(*)







