Sementara itu, Heri Suheri mewakili kepala BBKSDA Sulsel membawakan materi terkait kebijakan pemerintah dalam hal pemanfaatkan ikan hias dan karang hias atau koral untuk kepentingan komersiil.
“Pemerintah memang memiliki kebijakan tersendiri dalam pemanfaatan ikan hias karang untuk diperdagangkan. Dan terkait dengan kegiatan PIPK Politani Pangkep ini tentu saja sangat positif karena mengenalkan dan mempraktikkan metode yang ramah lingkungan,” ujarnya.
“Terkait pemanfaatan ikan hias dan karang hias ini memang dibatasi pengambilannya di alam. Karena itu, sekarang diarahkan kepada transplantasi. Harapan kami, untuk kegiatan ini, nelayan tergerak meninggalkan cara-cara lama yang memakai bius, potasium, hingga bom ikan,” jelasnya.
Berikutnya, Aron Arfandy Pananrang membawakan materi yang lebih pada program-program pemerintah untuk kebutuhan nelayan tangkap ikan konsumsi. Ia menyebutkan untuk kelompok nelayan ada bantuan kapal, jaring, alat GPS, hingga perangkap kepiting.
“Sejak bertugas di Pangkep ini, banyak bantuan yang diberikan dinas kelautan dan perikanan untuk nelayan di pulau. Sayangnya belum ada kelompok nelayan dari Desa Mattiro Bulu ini. Bagaimana kami bisa memberikan bantuan, kalau proposalnya belum pernah ada masuk,” tegas Aron.
Untuk itu, Aron menantang, nelayan di Mattiro Bulu mengambil kesempatan itu. Seperti yang sudah dilakukan kelompok anak muda Desa Mattiro Bulu lewat Himpakar. Aron menyebut puluhan anak muda telah diberikan pelatihan Basic Safety Training (BST) secara gratis.
“Kepada bapak-bapak jangan kalah dengan anak-anak muda yang tergabung dalam Himpakar. Mereka ini sudah ada ratusan kami undang ikut BST. Bahkan ada yang kita kirim diklat pembentukan DP4 untuk menjadi pelaut,” jelas Aron.
Dalam sesi tanya jawab, sejumlah nelayan dan perwakilan dari Himpakar melontarkan pertanyaan terkait program PIPK tersebut. Tampak penanya antara Sangkala, Haji Tahir, dan Haji Lamanang. Mereka bertanya tentang alat-alat ramah lingkungan tersebut dibeli dimana dan komposisi penggunaannya.
Sedangkan dari kalangan pemuda, mereka ingin diberdayakan untuk turut serta membantu nelayan. Paling tidak dalam kontribusi mendapatkan bantuan dan pengelolaan program.
Pada kegiatan tersebut tampak perwakilan Klompish dari Pulau Sarappo Keke Haji Rahim yang sudah 20 tahun menjadi nelayan penangkap ikan hias. Tampak pula tokoh masyarakat Desa Matttiro Bulu Haji Anwar.
“Saya telah mendapatkan banyak manfaat dari program PIPK Ikan hias. Tahun lalu kami mendapatkan materi pemanfaatan GPS untuk titik fishing ground penangkapan. Hasilnya efektif dan efisien pemakaian bahan bakar,” ujar Rahim.
Tujuan program PIPK ini adalah peningkatan hasil dan mengembangkan kegiatan usaha kelompok masyarakat nelayan yakni Klompish secara ekonomi yang lebih menguntungkan serta meningkatkan keterampilan secara soft skill dan hard skill hingga dampak positif bagi nilai aset dan omset UKM.
Program PIPK ini sudah memasuki tahun kedua. Program yang diangkat adalah Perbandingan Alat Tangkap Ramah Lingkungan dan Metode Konvensional dalam Penangkapan Ikan Hias: Dampak Terhadap Lingkungan dan Keberlanjutan.
Tahun pertama, program PIPK memfokuskan pada kegiatan metode pemanfaatan GPS (Global Positioning System) untuk efisiensi dan efektivitas penangkapan ikan hias dengan penentuan fishing ground. Juga Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB) untuk ikan hias hasil tangkapan. (*)







