Teguh Pairunan Putra Raih Gelar Doktor Unhas, Angkat Judul Peran Pelayaran Rakyat di Kabupaten Selayar

Mahasiswa S3 Studi Pembangunan Teguh Pairunan Putra (kedua dari kanan) berfoto bersama dengan tim penguji dan tim promotor usai pelaksanaan ujian tutup disertasi di Ruang 102, Sekolah Pascasarjana Unhas, Kamis (8/1/2026). Teguh mengangkat Judul Eksistensi Transportasi Pelayaran Rakyat dalam Menunjang Pengembangan Wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar. (dok pribadi)

MAKASSAR, SOLUSINEWS.ID — Teguh Pairunan Putra resmi menyandang gelar Doktor pada Program Studi Pembangunan, Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas), setelah dinyatakan lulus dalam Ujian Akhir Disertasi yang digelar di Ruang 102, SPs Unhas, Makassar, Kamis (8/1/2026).

Dalam disertasinya, Teguh mengangkat tema strategis bertajuk “Eksistensi Transportasi Pelayaran Rakyat dalam Menunjang Pengembangan Wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar”, sebuah kajian yang menempatkan transportasi laut tradisional sebagai tulang punggung konektivitas wilayah kepulauan

Sidang promosi doktor dibuka dan ditutup secara resmi oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Sekolah Pascasarjana Unhas, Prof Baharuddin ST MArch PhD.

Ia menekankan pentingnya disertasi yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memiliki relevansi kebijakan dan dampak nyata bagi pembangunan daerah, khususnya wilayah kepulauan yang menjadi ciri Indonesia.

Teguh dibimbing oleh tim promotor yang diketuai Prof Dr-Ing M Yamin Jinca MSTr, bersama Dr Ir Chairul Paotonan ST MT dan Dr Jhony Malisan DEA APU.

Tim penguji terdiri atas Prof Dr Ir Shirly Wunas DEA, Prof Ir M Saleh S Ali MSc PhD, Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc serta Dr Taufiqur Rachman ST MT. Penguji eksternal Dr Ir Amrin SE ST MM MAP CRP CIQA turut memberikan penilaian kritis terhadap disertasi tersebut.

Prof Yamin Jinca menilai penelitian Teguh memiliki kontribusi penting dalam memperkaya kajian studi pembangunan, terutama karena berhasil menempatkan pelayaran rakyat bukan sekadar moda transportasi tradisional, melainkan sebagai bagian integral dari sistem pengembangan wilayah kepulauan.

Menurutnya, disertasi ini menunjukkan keterkaitan kuat antara konektivitas laut, distribusi barang, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat kepulauan.

“Riset ini menunjukkan bahwa konektivitas laut bukan sekadar urusan transportasi, melainkan fondasi distribusi ekonomi dan pemerataan kesejahteraan masyarakat pulau-pulau kecil,” ujarnya.

“Bagaimana keberadaan transportasi laut itu bisa mengubah perekonomian masyarakat di Selayar. Dan kemudian karena secara ekonomi makin berkembang akan mengubah pengembangan wilayah,” lanjutnya.

Sedangkan Prof Shirly Wunas, sebagai salah satu penguji, menyoroti kekuatan analisis spasial dan keterpaduan pendekatan kuantitatif serta kebijakan dalam penelitian ini.

Ia menilai Teguh mampu menunjukkan secara sistematis bagaimana sistem transportasi laut dan pelayaran rakyat berpengaruh signifikan terhadap pengembangan wilayah, khususnya dalam konteks daerah kepulauan yang memiliki tantangan aksesibilitas tinggi.

“Penelitian ini mampu menjelaskan secara konkret bagaimana sistem transportasi laut dan pelayaran rakyat berpengaruh nyata terhadap dinamika pengembangan wilayah kepulauan,” ujarnya.

Sementara itu, Dr Amrin sebagai penguji eksternal menekankan pentingnya temuan disertasi ini bagi perumusan kebijakan transportasi laut di tingkat daerah. Kemudian menyesuaikan dengan kebijakan nasional melalui program tol laut.

Ia menilai rekomendasi kebijakan yang dirumuskan, mulai dari penguatan keselamatan pelayaran hingga pengembangan ekonomi maritim dan pariwisata bahari, memiliki relevansi praktis dan dapat dijadikan rujukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Temuan dan rekomendasi kebijakan dalam disertasi ini memiliki nilai aplikatif yang tinggi. Apalagi Pak Teguh dengan keseharian di Kementerian Perhubungan diharapkan bisa membawanya menjadi kebijakan nasional. Terutama untuk dijadikan rujukan bagi pemerintah dalam menata transportasi laut berbasis kebutuhan wilayah kepulauan,” ujarnya.

Dalam disertasinya, Teguh berangkat dari realitas Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.500 pulau. Kabupaten Kepulauan Selayar sendiri memiliki gugusan sekitar 130 pulau dengan tantangan utama berupa keterbatasan aksesibilitas dan rendahnya laju pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Kondisi tersebut, menurut Teguh, tidak dapat dilepaskan dari peran sistem transportasi laut yang belum sepenuhnya optimal, khususnya pelayaran rakyat sebagai subsistem transportasi nasional

3 Fokus Utama Kajian

Penelitian ini mengkaji tiga fokus utama. Pertama, kondisi eksisting sistem transportasi laut dalam menunjang pusat-pusat pertumbuhan. Kedua, peran dan pengaruh sistem transportasi laut dan pelayaran rakyat terhadap pengembangan wilayah. Ketiga, perumusan strategi kebijakan penyelenggaraan pelayaran rakyat yang relevan bagi wilayah kepulauan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayaran rakyat masih menjadi tulang punggung angkutan barang ke pulau-pulau seperti Jampea dan Bonerate. Pada 2022, rata-rata bongkar muat tertinggi tercatat di Pelabuhan Jampea dengan sekitar 365 ton per bulan, disusul Pelabuhan Bonerate. Sebaliknya, sejumlah pulau kecil masih menghadapi keterbatasan layanan, sehingga potensi produksi wilayah kepulauan belum mencapai kapasitas maksimal

Dari sisi penumpang, masyarakat kepulauan cenderung memilih kapal perintis karena keterhubungannya langsung dengan Kota Benteng sebagai pusat pertumbuhan. Temuan ini menegaskan adanya segmentasi fungsi antara pelayaran rakyat dan angkutan laut perintis dalam sistem transportasi Selayar

Secara statistik, Teguh yang kesehariannya sebagai pegawai di Kementerian Perhubungan, membuktikan bahwa sistem transportasi laut berpengaruh signifikan terhadap pengembangan wilayah dengan kontribusi pengaruh sebesar 60,1 persen.

Pelayaran rakyat juga menunjukkan pengaruh signifikan dengan kontribusi 36,3 persen. Nilai R-Square pengembangan wilayah mencapai 0,889, yang menunjukkan kuatnya peran kedua variabel tersebut dalam mendorong konektivitas, distribusi barang, dan pertumbuhan ekonomi wilayah kepulauan

Kebaruan penelitian ini terletak pada pengaitan langsung antara eksistensi pelayaran rakyat dan pengembangan wilayah kepulauan, yang dirumuskan melalui pendekatan SOAR serta analisis kebijakan William N. Dunn.

“Pendekatan ini masih relatif jarang diterapkan dalam studi pelayaran rakyat di tingkat daerah. Dan lokasi penelitian saya di Kabupaten Kepulauan Selayar,” ujar alumnus Teknik Perkapalan Unhas angkatan 2003 ini.

Sebagai rekomendasi, Teguh merumuskan empat strategi kebijakan utama: penguatan keselamatan pelayaran melalui modernisasi armada dan sertifikasi awak kapal; peningkatan kualitas layanan dan informasi publik melalui digitalisasi; perluasan akses dan jangkauan layanan ke pulau-pulau terpencil; serta pengembangan ekonomi maritim dan pariwisata bahari berbasis pelayaran rakyat

Dengan kelulusan ini, Teguh Pairunan Putra dinyatakan lulus dengan hasil memuaskan dan berhak menyandang gelar Doktor. Disertasinya diharapkan menjadi referensi akademik sekaligus pijakan kebijakan dalam memperkuat peran pelayaran rakyat sebagai fondasi pembangunan wilayah kepulauan yang berkelanjutan dan berkeadilan. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *