MAKASSAR, SOLUSINEWS — Universitas Negeri Makassar (UNM) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) terus mendorong penguatan literasi sosial anak melalui kegiatan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun Anggaran 2026.
Salah satu program tersebut dilaksanakan melalui kegiatan “Pemberdayaan Karang Taruna dalam Penguatan Literasi Sosial Anak pada Lingkungan dengan Kerentanan Konflik Sosial di Kawasan Sapiria Makassar.”
Kegiatan PKM ini dilaksanakan oleh tim pengabdi Universitas Negeri Makassar dengan Dr. Nurhaedah, S.Pd., M.Pd. selaku ketua tim, bersama anggota tim dosen serta mahasiswa yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Program tersebut bermitra dengan Karang Taruna Sapiria sebagai mitra utama dalam pelaksanaan dan keberlanjutan kegiatan literasi sosial anak. Identitas proposal mencatat Dr. Nurhaedah sebagai ketua tim dan Karang Taruna Sapiria sebagai mitra kerja sama program.
Kegiatan dilaksanakan pada Minggu, 16 Agustus 2026, pukul 09.00–16.00 WITA, bertempat di Pelataran Posyandu Sapiria, Makassar. Kegiatan tersebut diikuti oleh 20 anak dan melibatkan 7 orang anggota Karang Taruna Sapiria yang dipimpin oleh Ketua Karang Taruna, Junardi.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Ibu RT setempat sebagai bentuk dukungan masyarakat terhadap pelaksanaan kegiatan literasi sosial anak di lingkungan Sapiria.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berbagai aktivitas edukatif yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus membantu anak memahami nilai-nilai sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Program ini dilaksanakan sebagai respons terhadap kondisi kawasan Sapiria yang merupakan wilayah permukiman padat dengan dinamika sosial masyarakat yang kompleks.
Proposal PKM mencatat bahwa anak-anak di kawasan tersebut hidup dalam lingkungan yang memiliki kerentanan konflik sosial serta masih terbatasnya ruang belajar komunitas dan kegiatan edukatif yang secara khusus mendukung perkembangan sosial anak.
Di sisi lain, Karang Taruna Sapiria memiliki potensi besar untuk diberdayakan sebagai fasilitator kegiatan positif bagi anak-anak.
Selama ini, kegiatan Karang Taruna lebih banyak berfokus pada aktivitas sosial kemasyarakatan, sementara kegiatan yang secara khusus mengarah pada pengembangan literasi anak, khususnya literasi sosial, masih terbatas.

Menguatkan Literasi Sosial melalui Aktivitas Edukatif
Materi pertama yang diberikan kepada anak-anak berupa materi literasi sosial anak. Materi tersebut diarahkan untuk membantu anak memahami pentingnya empati, toleransi, kerja sama, kebersamaan, serta kemampuan berinteraksi secara positif dengan orang lain.
Literasi sosial dalam kegiatan ini tidak hanya dilakukan melalui aktivitas membaca, tetapi juga dikembangkan melalui kegiatan yang memungkinkan anak berdiskusi dan menghubungkan isi pembelajaran dengan pengalaman sosial yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut sejalan dengan rancangan program yang mengintegrasikan membaca cerita bertema kehidupan sosial, diskusi nilai kebersamaan, permainan kolaboratif, dan refleksi sederhana.
Setelah penyampaian materi, anak-anak mengikuti pemutaran video edukasi sosial. Video digunakan sebagai media pembelajaran untuk memberikan gambaran mengenai situasi sosial secara lebih konkret dan menarik bagi anak.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan membaca dan diskusi buku. Anak-anak diajak membaca bahan bacaan yang berkaitan dengan kehidupan sosial, kemudian mendiskusikan isi cerita serta nilai-nilai yang terdapat di dalamnya.
Melalui kegiatan tersebut, anak diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, berbagi pengalaman, dan memahami sudut pandang orang lain.
Aktivitas membaca yang dilanjutkan dengan diskusi reflektif merupakan bagian penting dari pendekatan literasi kritis yang menjadi salah satu dasar pengembangan program.
Proposal menjelaskan bahwa kegiatan membaca yang disertai diskusi reflektif mengenai isi bacaan dapat membantu anak memahami realitas sosial di sekitarnya serta mengembangkan sikap empati terhadap orang lain.
Selain membaca dan berdiskusi, anak-anak juga mengikuti permainan Ular Tangga Literasi. Permainan tersebut menjadi salah satu aktivitas edukatif yang digunakan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus mendorong interaksi dan kerja sama antaranak.
Melalui permainan, anak-anak tidak hanya diajak bermain, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial.
Aktivitas permainan kolaboratif menjadi bagian dari rancangan literasi sosial berbasis komunitas yang dikembangkan dalam program PKM.
Kegiatan dilanjutkan dengan Papan Perasaan, yaitu aktivitas yang memberikan ruang bagi anak untuk mengenali dan mengungkapkan perasaan mereka.
Anak-anak diajak merefleksikan perasaan yang muncul dalam berbagai situasi sosial sehingga kegiatan literasi tidak hanya berfokus pada kemampuan memahami bacaan, tetapi juga pada pengembangan kesadaran diri dan kemampuan memahami perasaan orang lain.
Rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk menciptakan ruang belajar komunitas yang positif bagi anak-anak.
Program PKM ini memang diarahkan untuk memperkuat empati, toleransi, kerja sama, serta kemampuan anak dalam menyelesaikan konflik secara damai sebagai bagian dari upaya preventif dalam menghadapi kerentanan konflik sosial di lingkungan masyarakat.
Penyerahan Buku dan Media Ular Tangga Literasi
Sebagai bagian dari kegiatan, tim pengabdi juga melakukan penyerahan buku bacaan dan media Ular Tangga Literasi kepada Karang Taruna Sapiria.
Penyerahan media tersebut diharapkan dapat mendukung keberlanjutan kegiatan literasi sosial anak di lingkungan komunitas.
Penyediaan media literasi merupakan salah satu solusi yang dirancang dalam proposal PKM untuk mengatasi keterbatasan bahan bacaan dan media pembelajaran literasi sosial anak di kawasan Sapiria.
Media yang disediakan diharapkan dapat membantu fasilitator dalam melaksanakan kegiatan literasi secara lebih menarik dan partisipatif.
Melalui kegiatan ini, Karang Taruna tidak hanya berperan sebagai mitra dalam pelaksanaan kegiatan, tetapi juga diharapkan dapat menjadi fasilitator yang mendampingi anak-anak dalam kegiatan literasi sosial secara berkelanjutan.
Dalam proposal, Karang Taruna memiliki peran dalam mengorganisasi peserta, menyediakan lokasi kegiatan, memfasilitasi kegiatan literasi, serta menjaga keberlanjutan program di tingkat komunitas.
Kegiatan literasi sosial berbasis komunitas ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar, membaca, berdiskusi, bermain, dan merefleksikan pengalaman sosial mereka dalam lingkungan yang positif.
Selain memberikan manfaat langsung bagi anak, program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam menciptakan lingkungan sosial yang lebih aman, inklusif, dan mendukung perkembangan karakter sosial anak.
Melalui kolaborasi antara UNM, tim pengabdi, Karang Taruna, dan masyarakat setempat, kegiatan PKM ini diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan satu kegiatan, tetapi dapat menjadi awal terbentuknya kegiatan literasi sosial anak yang dapat dilanjutkan secara mandiri oleh komunitas.
Program tersebut sejalan dengan target pengabdian yang menempatkan minimal 20 anak sebagai peserta kegiatan literasi sosial serta mendorong tersedianya media pembelajaran literasi sosial yang dapat digunakan dalam kegiatan komunitas.(*)







