Penulis : Rudihartono, dia adalah praktisi pariwisata dan founder pigitrip.com
Ada masa ketika promosi wisata identik dengan brosur warna-warni, spanduk besar di pinggir jalan, hingga pameran di gedung-gedung konvensi. Wisatawan harus datang ke agen perjalanan, membuka katalog, lalu memilih paket yang ditawarkan. Semua serba manual dan terbatas jangkauannya.
Namun, dunia telah berubah. Kini wisatawan lebih dulu membuka ponsel sebelum memutuskan berlibur. Mereka mencari destinasi lewat Google, menonton video di TikTok, lalu memesan tiket dan hotel hanya dengan beberapa sentuhan. Era digital telah menggeser wajah pariwisata. Pertanyaannya: apakah kita sudah siap?
Di tengah derasnya arus globalisasi digital, hadir Pigitrip.com, sebuah platform lokal karya anak Sulawesi Selatan. Pigitrip mencoba menjawab kebutuhan itu dengan menjadi marketplace wisata yang bukan hanya menjual paket perjalanan, tetapi juga mempertemukan wisatawan dengan destinasi, kuliner, UMKM, hingga pengalaman budaya khas daerah.
Yang menarik, Pigitrip tidak hanya bicara soal bisnis, tapi juga soal kolaborasi. Akademisi, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat lokal diajak bersama-sama membangun ekosistem pariwisata digital. Inilah bentuk nyata bahwa pariwisata di era baru tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus saling terhubung.
Digitalisasi wisata bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan. Jika kita terlambat, wisata daerah hanya akan menjadi penonton, kalah oleh destinasi lain yang lebih siap tampil di dunia digital. Platform seperti Pigitrip.com adalah momentum. Ia mengingatkan kita bahwa inovasi lokal bisa menjadi motor besar yang membawa pariwisata nusantara melesat lebih jauh, bahkan hingga pasar internasional.
Kini saatnya kita meninggalkan ketergantungan pada brosur dan baliho. Saatnya kita bergerak ke layar ponsel, tempat wisatawan masa kini mencari inspirasi perjalanan. Dan di sana, Pigitrip.com siap hadir sebagai pintu masuk keindahan nusantara.







