Figur Kuat, Posisi Munafri Arifuddin di Golkar Dinilai Lampaui Kekuatan Partai

Pengamat Politik Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Dr. Arief Wicaksono.(*)

MAKASAR, SOLUSINEWS — Akademisi menyoroti dinamika politik yang melibatkan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin alias Appi, bersama Partai Golkar.

Isu mengenai posisi Appi dinilai mencerminkan fenomena politik modern yang semakin menonjolkan peran figur dalam kontestasi elektoral.

Pengamat Politik Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Dr. Arief Wicaksono, menyatakan bahwa kecenderungan menguatnya peran figur menggeser identitas kelembagaan partai sejak era Reformasi.

Pemilih kini mempertimbangkan personalitas kandidat dan strategi kampanye secara mandiri.

Bacaan Lainnya

Arief merujuk penelitian Saiful Mujani dan R. William Liddle tahun 2010 yang menunjukkan bahwa dukungan terhadap pemimpin, pengaruh kampanye media, serta evaluasi kinerja pemerintahan memengaruhi pilihan pemilih. Sementara itu, identifikasi terhadap partai politik mengalami penurunan.

Penelitian Suko Widodo tahun 2015 mengenai media lokal dan individuasi politik juga memperkuat pandangan tersebut. Riset itu menggambarkan bagaimana personalisasi figur politisi menggeser peran tradisional partai politik.

Modal Politik Komplit Milik Appi

Dalam konteks dinamika politik Appi dengan Partai Golkar, Arief menilai sang Wali Kota Makassar memiliki modal politik yang sangat komplit untuk memengaruhi daya tawarnya.

  • Basis relawan militan yang selalu siap menggerakkan dukungan akar rumput.
  • Dukungan anggota dewan yang memperkuat posisi tawar di legislatif.
  • Jaringan keluarga serta bisnis yang mengakar kuat di tengah masyarakat.
  • Basis suara riil yang terbukti dalam berbagai kontestasi sebelumnya.

Kombinasi modal individual ini membuat daya tawar Appi melampaui kelembagaan partai politik itu sendiri.

Kendati demikian, publik tetap harus membedakan antara isu politik yang berkembang dengan keputusan resmi. Sebelumnya pada Juli 2026, Appi menegaskan dirinya masih menjadi kader Partai Golkar sekaligus membantah isu kepindahannya.

Arief menyimpulkan bahwa partai politik perlu menyesuaikan diri dengan realitas baru ini karena kekuatan nyata saat ini dipegang oleh figur, bukan lagi semata-mata oleh institusi partai.

“Realitas politik hari ini menunjukkan bahwa kekuatan nyata sedang dipegang oleh kekuatan figur, bukan lagi oleh partai politik,” tegas Arief, Rabu (23/9/2026).

Bagaimana pandangan Anda mengenai dominasi figur politik dibandingkan peran partai tradisional dalam kontestasi di Makassar saat ini?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *