Jejak Sepeda Ontel di Tengah Dunia yang Gelisah

SOLUSINEWS.ID – Pagi belum sepenuhnya terang ketika sebuah sepeda ontel tua melintas pelan di jalan di tengah kota. Rangka besinya terlihat kokoh meski sudah bertransformasi tanpa menghilangkan kesan klasiknya.

Di tengah deru kendaraan bermotor yang melintas cepat, kayuhan ontel itu terasa tenang, seolah tidak terburu-buru mengejar waktu.

Bagi sebagian orang, sepeda ontel mungkin hanya benda lama yang tersisa dari masa lalu. Namun bagi mereka yang masih setia mengayuhnya, ontel bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah bagian dari cerita hidup yang terus berjalan.

Puluhan tahun lalu, sepeda ontel pernah menjadi sahabat setia masyarakat. Dengan sepeda itu orang pergi ke pasar, mengantar anak ke sekolah, hingga membawa hasil kebun ke kota. Jalan-jalan desa dipenuhi suara rantai sepeda dan bel kecil yang berbunyi nyaring.

Bacaan Lainnya

Namun zaman berubah. Sepeda motor dan mobil datang membawa kecepatan. Perlahan, sepeda ontel tersingkir dan lebih sering terlihat tersandar di sudut rumah atau menjadi pajangan kenangan.

Kini, ketika dunia menghadapi berbagai kegelisahan—harga bahan bakar yang terus naik, kemacetan kota, dan persoalan lingkungan—sepeda ontel justru mulai kembali dilirik.

Di beberapa tempat, orang mulai kembali mengayuh sepeda. Ada yang melakukannya untuk berolahraga, ada pula yang menjadikannya sarana bekerja. Bahkan muncul komunitas sepeda klasik yang merawat ontel-ontel tua agar tetap hidup di jalanan.

Tidak sedikit pula yang memanfaatkan sepeda ontel untuk usaha kecil. Ada yang menjadikannya gerobak kopi keliling, penjual roti, atau sekadar alat berjualan di sudut-sudut kota. Dari kayuhan sederhana itu, roda ekonomi kecil tetap berputar.

Sepeda ontel memang tidak cepat. Ia tidak berisik dan tidak membutuhkan bahan bakar. Namun justru dalam kesederhanaannya, ontel menawarkan sesuatu yang mulai langka di zaman sekarang: ketenangan.

Di tengah dunia yang terasa semakin gelisah, jejak roda sepeda ontel di jalanan seakan mengingatkan bahwa hidup tidak selalu harus bergerak cepat. Kadang, langkah yang pelan justru membuat kita lebih mampu melihat arah perjalanan. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *