MAKASSAR, SOLUSINEWS.ID — Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar, Zuhaelsi Zubir, melakukan survei ke sejumlah titik pintu air di Kota Makassar untuk memastikan kondisi dan fungsi infrastruktur pengendalian aliran air tetap optimal. Peninjauan lapangan tersebut dilakukan pada Rabu (7/10/2028).
Zuhaelsi mengatakan, pemeriksaan langsung diperlukan untuk mengidentifikasi kebutuhan penanganan, pemeliharaan, hingga perbaikan infrastruktur sumber daya air.
Pengecekan dilakukan, seperti di Pintu Air Rappokalling Jalan Rappokalling Utara, Kecamatan Tallo. Kemudian di kecamatan Rappocini di Pintu Air Stella Marris Jalan Taman Yasmin Indah dan Pintu Air Landak Baru Jalan Andi Djemma. Lalu, Pintu Air Jongayya Jalan Balangbaru, di Kecamatan Tamalate
Pengecekan juga dilakukan untuk memastikan pintu air dapat beroperasi sesuai fungsinya.
“Dengan pengecekan langsung, kami bisa memetakan titik-titik yang memerlukan intervensi, baik itu pembersihan sedimentasi, perbaikan mekanis, atau penggantian komponen pintu air,” ujarnya.
Menurutnya, pemantauan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga sistem drainase kota agar tetap berfungsi baik, terutama ketika curah hujan meningkat. Pemeriksaan dilakukan untuk mendeteksi potensi sumbatan dan kerusakan yang dapat menghambat pengendalian aliran air.
“Kami tidak menunggu laporan. Tim sudah bergerak memeriksa kondisi fisik, memastikan tidak ada sumbatan, dan pintu air dapat beroperasi sesuai desain,” kata Zuhaelsi.
Dinas PU Makassar juga mengoptimalkan peran Satuan Tugas (Satgas) Drainase dalam pemeliharaan saluran dan merespons laporan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan antara lain membersihkan sedimentasi, menyisir sampah, serta memeriksa kondisi fisik saluran yang berpotensi menghambat aliran air.
Zuhaelsi mengimbau masyarakat ikut menjaga kebersihan saluran di lingkungan masing-masing dengan tidak membuang sampah sembarangan. Ia menegaskan, survei pintu air menjadi bagian dari komitmen Dinas PU untuk memetakan kebutuhan pemeliharaan dan perbaikan berdasarkan kondisi lapangan, sehingga sistem pengendalian air lebih siap menghadapi hujan dan risiko genangan dapat diminimalkan.







