GOWA, SOLUSINEWS.ID – Lima hari tanpa sampah. Bagi sebagian orang, kalimat itu mungkin terdengar seperti kabar baik. Tetapi bagi warga yang selama ini menggantungkan hidup dari TPA Cadika Bajeng, tidak adanya sampah justru berarti tidak ada penghasilan.
Karung-karung yang biasanya terisi barang bekas masih menjadi pemandangan di sekitar kawasan TPA. Namun aktivitas yang selama ini menghidupi sebagian warga mendadak sepi setelah akses menuju lokasi ditutup.
Daeng Ngona salah satunya. Ia bersama warga lainnya biasa memilah sampah yang masih memiliki nilai jual. Botol plastik, kardus, besi, dan berbagai barang bekas dikumpulkan sebelum dijual kepada pengepul.
Hasilnya memang tidak besar. Namun dari situlah kebutuhan sehari-hari mereka dipenuhi.
“Kami jual Rp1.000 per kilogram. Biasa sampai 20 karung baru ada penimbang yang datang ambil,” kata Daeng Ngona.
Uang dari hasil memilah sampah itu, kata dia, digunakan untuk membeli kebutuhan dapur.
“Untuk beli beras dan ikan,” ujarnya.
Kini, aktivitas tersebut terhenti. Bukan karena sampahnya habis, melainkan karena kendaraan pengangkut tidak lagi masuk ke TPA Cadika.
Dampaknya mulai terasa di luar kawasan TPA. Sampah rumah tangga ikut menumpuk di sejumlah titik, terutama di Kecamatan Somba Opu dan Pallangga.
Persoalan itu kemudian membawa Bupati Gowa Dr Sitti Husniah Talenrang turun langsung ke kawasan TPA Cadika, Minggu (20/9/2026).
Bukan sekadar melihat tumpukan sampah, kedatangan bupati kali ini juga untuk mencari jalan agar armada pengangkut kembali dapat masuk ke kawasan TPA.
Di lokasi, alat berat telah disiapkan. Pemerintah daerah membuka kemungkinan jalur alternatif melalui kawasan Bumi Perkemahan HM Yasin Limpo.
Jalur tersebut disiapkan sebagai akses sementara bagi kendaraan pengangkut sampah.
“Sudah ada solusi dari penutupan akses ke TPA Bajeng. Kita siapkan jalan baru untuk akses armada sampah,” kata Sitti Husniah.
Ia memastikan armada pengangkut sampah akan kembali beroperasi setelah akses alternatif tersebut dibuka.
“Dari peninjauan ini, saya pastikan armada sampah kembali beroperasi ke TPA Bajeng,” katanya.
Bupati tidak datang sendiri. Ia didampingi Plh Kasatpol PP Agussalim dan Plt Kadis PU Aryanto Abbas. Di sekitar lokasi, aktivitas alat berat menjadi tanda bahwa pemerintah mulai menyiapkan jalur baru.
Namun persoalan sampah di Gowa tidak berhenti pada soal akses jalan.
Di balik tumpukan sampah, ada warga yang kehilangan penghasilan. Di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai pengelolaan persampahan dan koordinasi antarperangkat daerah.
Direktur Eksekutif Forum Peduli Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan (FP2D), Muhammad Naufal, menyoroti peran Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gowa.
Menurut dia, persoalan teknis persampahan merupakan bagian dari tanggung jawab dinas tersebut. Ia bahkan meminta Kepala DLH Gowa Ashari Azis mengundurkan diri.
“Kalau ada masalah di lapangan, seorang kadis wajib melaporkan kondisi secara utuh kepada bupati,” kata Naufal.
Kritik serupa disampaikan aktivis senior Sugianto Pattanegara. Menurut dia, kepala dinas memiliki tanggung jawab teknis terhadap urusan yang menjadi kewenangannya.
“Kalau gagal, sebaiknya mundur saja, jangan menambah beban bupati,” ujar Sugianto.
Kini, jalan alternatif menjadi harapan agar roda pengangkutan sampah kembali bergerak.
Bagi pemerintah, terbukanya akses berarti armada bisa kembali bekerja.
Bagi warga TPA Cadika seperti Daeng Ngona, kembalinya sampah berarti sesuatu yang lebih sederhana: karung-karung kembali terisi, pengepul kembali datang, dan dapur kembali bisa mengepul.(*)







