Mampukah Toprak Razgatlioglu Menaklukkan MotoGP ? (bag-1)

Toprak Razgatlioglu.(*)

Edwards & Toseland

Dari sekian banyak pembalap WorldSBK yang beralih ke MotoGP, mungkin ekspektasi paling tinggi tertuju pada Colin Edwards dan James Toseland.

Edwards, pembalap asal Texas yang dikenal vokal dan ramah, tak pernah ragu menyuarakan pendapatnya. Ia bahkan sempat mendorong Neil Hodgson yang menggantikannya sebagai juara dunia pada 2003 untuk ikut terjun ke MotoGP.

Bacaan Lainnya

Karier Edwards di MotoGP terbilang luar biasa, baik di dalam maupun luar lintasan. Ia mencatat 196 penampilan Grand Prix dan banyak yang merasa ia pantas meraih setidaknya satu kemenangan.

Pada tahun 2006, ia memimpin balapan Dutch TT di Assen hingga tikungan terakhir sebelum garis finis.

Sayangnya, ia terjatuh tepat saat bendera finis sudah di depan mata, momen yang membuat hampir seluruh paddock MotoGP kecewa.

Kesempatan emas itu hilang dan tak pernah kembali. Meski begitu, Edwards berhasil naik podium sebanyak 12 kali, termasuk lima kali finis di posisi kedua.

Jika ada pembalap yang layak bergabung dengan Bayliss dan Spies sebagai pemenang Grand Prix, Edwards-lah orangnya.

Sementara itu, di tengah minimnya prestasi pembalap Inggris di MotoGP, kehadiran James Toseland dianggap sebagai fajar baru bagi Inggris di ajang balap motor tertinggi.

Juara dunia dua kali ini memulai debutnya dengan menjanjikan, berhasil start dari baris depan pada seri pembuka MotoGP 2008 di Qatar. Sayangnya, harapan itu tak berkembang karena cedera pergelangan tangan yang menyakitkan dan mengganggu cengkeraman.

Toseland hanya tampil dalam 35 Grand Prix, dengan hasil terbaik berupa sembilan kali finis di posisi keenam.

Neil Hodgson & Carl Fogarty

Neil Hodgson

Neil Hodgson akhirnya mengikuti saran Colin Edwards untuk “angkat pantat dari sofa dan gabung ke MotoGP.” Sebelumnya, Hodgson sudah punya pengalaman di kelas 125cc dan 500cc Grand Prix.

Ia sempat menjalani 15 balapan MotoGP bersama tim Yamaha privat sebelum beralih ke World Superbike.

Di sana, ia meraih gelar juara dunia pada tahun 2003 dan kembali ke MotoGP setahun kemudian.

Sayangnya, ia harus berjuang keras dengan motor Ducati yang kurang kompetitif, dan hasil terbaiknya hanyalah finis di posisi kedelapan di Jepang.

Lalu, bagaimana dengan para juara dunia yang memilih tetap bertahan sebagai “raja di kastilnya sendiri”?

Carl Fogarty adalah salah satu contohnya. Ia mendapat pujian setara Barry Sheene saat meraih gelar WorldSBK pada tahun 1994, 1995, 1998, dan 1999.

Carl Fogarty

Di bawah kepemimpinannya, WorldSBK bahkan mampu menyaingi popularitas Grand Prix di beberapa negara, termasuk Inggris.

Fogarty sempat tampil dalam enam balapan Grand Prix dan menunjukkan kemampuannya, termasuk finis keempat di Inggris.

Dia juga terbukti mampu bersaing dengan nama besar seperti Mick Doohan, juara MotoGP lima kali.

Namun, Fogarty hanya bersedia pindah ke MotoGP jika mendapat tawaran dari tim papan atas. Sayangnya, cedera menghentikan kariernya lebih cepat dari yang diharapkan.

 Jonathan Rea

Jonathan Rea, pembalap asal Ulster (Irlandia), mencetak rekor luar biasa dengan meraih gelar World Superbike sebanyak enam kali berturut-turut bersama Kawasaki antara tahun 2015 hingga 2020.

Banyak yang percaya, dialah sosok yang pantas menantang nama-nama besar seperti Valentino Rossi dan Marc Marquez di panggung MotoGP. Saat menggantikan Casey Stoner yang cedera di tim Repsol Honda pada tahun 2012, Rea tampil mengesankan dengan finis di posisi ketujuh dan kedelapan di Aragon dan Misano.

Namun, seperti halnya Carl Fogarty, tawaran yang tepat untuk meninggalkan gaya hidup sukses dan nyaman di WorldSBK tak pernah datang.

Siapa yang bisa menyalahkan mereka karena memilih bertahan? Kita pun hanya bisa membayangkan duel impian Fogarty vs Doohan, Rea vs Rossi dan Marquez.

 Jagoan MotoGP yang Sukses di WorldSBK

Sementara itu, mereka yang menempuh jalur sebaliknya justru menemukan jalan yang lebih mulus.

Juara Grand Prix seperti Max Biaggi dan Alvaro Bautista berhasil menambah koleksi trofi dunia mereka di WorldSBK.

Biaggi, pembalap asal Italia, memenangkan 13 balapan kelas utama setelah meraih empat gelar berturut-turut di kelas 250cc.

Saat beralih ke WorldSBK, ia sukses meraih dua gelar lagi pada tahun 2010 dan 2012.

Bautista dari Spanyol juga mencetak prestasi gemilang dengan dua gelar WorldSBK pada 2022 dan 2023, setelah sebelumnya menjadi juara dunia kelas 125cc tahun 2006 dan tampil dalam 159 balapan MotoGP, termasuk tiga kali naik podium.

Pembalap Amerika, John Kocinski, mencatat empat kemenangan MotoGP dari 71 balapan sebelum menjadi juara WorldSBK pada tahun 1997.

Sementara Carlos Checa dari Spanyol meraih dua kemenangan MotoGP dari 194 balapan kelas utama, lalu menjadi juara WorldSBK pada 2011. Raymond Roche dari Prancis mengalami kebalikan dari dilema Colin Edwards setelah meraih sembilan podium dari 80 balapan MotoGP, ia menemukan keberuntungan saat beralih dan meraih gelar WorldSBK pada tahun 1990.(bersambung …)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *