Pengertian Komunikasi Antarpribadi: Tinjauan Teoretis Perspektif Pakar Global dan Indonesia

ilustrasi Komunikasi AntarPribadi (ai)

KOMUNIKASI Antarpribadi (KAP) atau interpersonal communication merupakan proses pertukaran gagasan, perasaan, serta makna antara dua orang atau lebih.

Proses ini berlangsung baik secara langsung (tatap muka) maupun melalui media teknis, yang secara dinamis membentuk, mempertahankan, atau mengubah pola hubungan sosial antarindividu.

Berikut beberapa pandangan pakar terkait pengertian KAP:

Joseph A. DeVito (Lahir 1938)

DeVito mendefinisikan komunikasi antarpribadi sebagai proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau di antara sekelompok kecil individu, dengan beberapa efek dan umpan balik (feedback) seketika.

Bacaan Lainnya

DeVito menekankan bahwa interaksi ini berada dalam rentang kontinum dari yang bersifat sangat tidak pribadi (impersonal) hingga sangat pribadi (interpersonal).

Sumber Referensi: Buku The Interpersonal Communication Book (edisi perdana terbit 1976; edisi mutakhir 2018).

Joseph A. DeVito adalah Profesor Emeritus Ilmu Komunikasi di Hunter College, City University of New York (CUNY). Beliau merupakan salah satu akademisi terkemuka di bidang komunikasi manusia (human communication).

Judy C. Pearson (Lahir 1945)

Pearson memandang KAP sebagai proses penyampaian dan penerimaan pesan secara verbal maupun nonverbal yang terjadi secara sengaja atau tidak sengaja antara dua individu.

Keduanya saling memengaruhi satu sama lain (mutual influence) dalam suasana interaksi yang cenderung informal dan informalistis.

Sumber Referensi: Buku Interpersonal Communication: Basic Health Skills (1983) dan Human Communication (2017).

Judy C. Pearson adalah akademisi dan Profesor Ilmu Komunikasi yang pernah menjabat sebagai Associate Dean of Arts, Humanities, and Social Sciences di North Dakota State University serta Mantan Presiden National Communication Association (NCA).

Gerald R. Miller (1931–1993)

Miller mengemukakan developmental approach (pendekatan perkembangan). Menurutnya, komunikasi baru dapat dikategorikan sebagai “antarpribadi” ketika prediksi interaksi didasarkan pada data psikologis individu secara khusus, bukan lagi sekadar data sosiologis atau kultural.

Sumber Referensi: Karya monumental Between People: A New Analysis of Interpersonal Communication (1975, ditulis bersama Mark L. Knapp).

Gerald R. Miller adalah tokoh dan profesor Ilmu Komunikasi di Michigan State University. Beliau adalah pionir pendekatan sains perilaku (behavioral science) dalam penelitian komunikasi.

Sementara menurut pandangan pakar Indonesias tentang KAP antara lain:

Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A. (1928–2000)

Effendy mendefinisikan komunikasi antarpribadi sebagai komunikasi antara dua orang yang berlangsung secara tatap muka (face-to-face). Tatap muka ini memungkinkan setiap peserta menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun nonverbal.

Sumber Referensi: Buku Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi (1993) serta Dinamika Komunikasi (2000).

Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy Tokoh senior dan Guru Besar Ilmu Komunikasi Indonesia dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, yang banyak meletakkan dasar pemikiran ilmu komunikasi dan publisistik di Indonesia.

Prof. Dr. Alo Liliweri, M.S. (Lahir 1957)

Liliweri mengartikan KAP sebagai pengalihan pesan dari satu orang ke orang lain, di mana terjadi pertukaran gagasan, informasi, dan perasaan secara intensif. Karakteristik utama KAP terletak pada derajat keterlibatan emosional dan tingkat kerahasiaan informasi yang dibagikan antaraktor komunikasi.

Sumber Referensi: Buku Komunikasi Antarpribadi (1991) dan Perspektif Komunikasi Antarpribadi (2015).

Prof. Dr. Alo Liliweri adalah Guru Besar Ilmu Komunikasi di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Beliau adalah akademisi pakar di bidang komunikasi lintas budaya dan komunikasi antarpribadi.

Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D. (Lahir 1958)

Mulyana menyatakan bahwa komunikasi antarpribadi adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik berupa ucapan maupun bahasa tubuh. Mulyana menyoroti pentingnya keterlibatan kognitif dan persepsi diri dalam membentuk efektivitas KAP.

Sumber Referensi: Buku Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar (2005/2014).

Prof. Deddy Mulyana Guru Besar dan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (2008–2016). Beliau merupakan pakar pemikiran metodologi kualitatif dan kebudayaan dalam komunikasi.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *