SOLUSINEWS.ID – Ferran Torres berdiri beberapa meter dari gawang ketika bola hasil sundulan Nico Williams meluncur ke arahnya. Di belakang Torres, puluhan ribu orang di MetLife Stadium menahan napas. Di depannya, Emiliano Martinez bergerak menutup sudut. Torres tidak menendang sekuat tenaga.
Ia hanya membuka kaki, mengarahkan bola dengan tenang, lalu menyaksikannya melewati kiper Argentina. Gol.
Sepakan sederhana itu mengakhiri pertandingan yang selama 106 menit terasa seperti tak ingin selesai. Torres berlari ke sudut lapangan. Para pemain Spanyol mengejarnya. Bangku cadangan meledak. Argentina terdiam.
Spanyol unggul 1-0 pada awal babak kedua perpanjangan waktu. Skor itu bertahan hingga peluit terakhir. Rodri kemudian mengangkat trofi emas di bawah siraman konfeti, menutup Piala Dunia terbesar yang pernah diselenggarakan: 104 pertandingan, 48 negara, tiga tuan rumah, dan lima setengah pekan yang dipenuhi pahlawan, kontroversi, kekacauan, serta pertunjukan selebritas.
Untuk Spanyol, sejarah punya pasangan baru. Tahun 2010 dikenang melalui gol Andres Iniesta di Johannesburg. Tahun 2026 akan dikenang lewat kaki kanan Ferran Torres di New Jersey.
Malam itu seharusnya menjadi puncak sepak bola dunia. Namun pesta justru dimulai dengan kebingungan.
Lapangan MetLife yang kondisinya sejak awal dipertanyakan menjadi panggung upacara penutupan. IShowSpeed membuka pertunjukan yang juga menghadirkan Post Malone, Robbie Williams, dan Nicole Scherzinger. Tom Cruise tampil dengan monolog yang panjang, tapi tak cukup kuat untuk tinggal dalam ingatan.
Chris Martin, vokalis Coldplay, berbicara dalam bahasa Spanyol dengan fasih. Jennifer Hudson menyanyikan The Star-Spangled Banner. Michael dan Bruce Buffer menggelegarkan suara mereka seperti sedang membuka pertarungan tinju kelas berat.
Tribun dipenuhi wajah-wajah terkenal. Matt Damon, Will Ferrell, Beyoncé, Jay-Z, Rihanna, Drake, Timothée Chalamet, Kylie Jenner, hingga Donald Trump datang menyaksikan pertandingan paling mahal dan paling gemerlap dalam kalender olahraga dunia.
Namun ketika bola mulai bergulir, kemewahan itu menguap.
Babak pertama berlangsung seperti permainan catur yang terlalu berhati-hati. Spanyol melepaskan tiga tembakan. Argentina tidak satu pun. Lionel Messi lebih sering turun menjemput bola, sementara rekan-rekannya membentuk dinding di depan kotak penalti.
Argentina seperti sedang menunggu adu penalti sejak menit pertama.
Ketika turun minum tiba, pertandingan sepak bola kembali berubah menjadi konser. Ronaldo, Ronaldinho, dan Madonna diperkenalkan sebagai bagian dari pertunjukan, tapi tak kunjung muncul di lapangan. Justin Bieber datang bersama gitar. Shakira tampil dengan energi dan pergerakan yang, malam itu, bahkan lebih kreatif dibandingkan para pemain berseragam putih-biru.
Jeda berlangsung 27 menit 23 detik.
Sesudah pertunjukan selesai, Spanyol kembali menyerang. Argentina tetap bertahan. Tidak ada bayangan laga final Qatar 2022 yang menghasilkan enam gol sebelum adu penalti. Pertandingan ini keras, lambat, dan kerap terputus.
Spanyol menguasai bola, menekan dari dua sisi, lalu mengirim umpan silang berulang kali. Argentina menumpuk pemain di tengah. Emiliano Martinez, yang bermain dengan jari patah, menjadi benteng terakhir.
Situasi Argentina memburuk ketika Enzo Fernandez menerima kartu kuning kedua. Ia meninggalkan lapangan dengan jumlah kartu lebih banyak dibandingkan total tembakan Argentina sepanjang waktu normal.
Spanyol mencatatkan 15 percobaan. Argentina nol.
Menjelang akhir waktu normal, Martinez menepis tendangan bebas Lamine Yamal. Pada babak perpanjangan waktu, Spanyol sempat mencetak gol, tetapi wasit membatalkannya karena pelanggaran yang diperdebatkan.
Para pemain Spanyol mengepung wasit. Pendukung mereka bersiul. Di bangku cadangan, pelatih Spanyol mengangkat tangan dengan wajah tak percaya. Turnamen ini memang telah berkali-kali hidup dari keputusan yang sulit dijelaskan.
Tetapi Spanyol tidak berhenti.
Serangan ke-20 akhirnya menjadi pembeda. Nico Williams menyambut bola dengan sundulan terukur. Torres menjaga ketenangan ketika yang lain mulai kehilangan tenaga. Satu sentuhan mengarahkan bola ke sudut gawang.
Argentina baru berhasil melepaskan dua tembakan hingga pertandingan berakhir. Angka yang terasa ganjil bagi tim yang memiliki Messi dan datang sebagai juara bertahan.
Messi berdiri terpaku setelah peluit akhir. Pada usia ketika kesempatan tampil kembali di Piala Dunia semakin tipis, ia tak punya banyak alasan untuk menggugat kekalahan. Argentina telah bertahan dengan gigih, tetapi hampir tidak pernah benar-benar mencoba memenangi pertandingan.
Rodri, sebaliknya, menuntaskan koleksi kariernya. Ia telah mendapatkan hampir semua yang dapat dimenangi bersama klub dan negara, termasuk Ballon d’Or. Kini Piala Dunia berada di tangannya.
Kemenangan Spanyol terasa pantas. Mereka menjadi tim paling stabil sepanjang turnamen, meskipun memulainya dengan hasil imbang tanpa gol melawan Tanjung Verde. Dalam perjalanan menuju final, pertahanan mereka hanya kebobolan sekali. Prancis disingkirkan secara meyakinkan di semifinal.
Argentina mengambil jalur berbeda. Mereka tidak pernah unggul pada akhir 90 menit dalam pertandingan fase gugur melawan Tanjung Verde, Mesir, Swiss, dan Inggris. Messi, daya juang, sejumlah keputusan wasit yang dipersoalkan, serta pergantian pemain defensif Thomas Tuchel membantu Argentina mencapai final kedua secara beruntun.
Spanyol membawa permainan terbaik. Argentina membawa pemain terbaik dan kemampuan bertahan hidup yang luar biasa. Pada akhirnya, permainan menang.
Turnamen ini sejak awal dirancang lebih besar daripada sebelumnya. Penambahan peserta dari 32 menjadi 48 tim dikhawatirkan akan menurunkan mutu pertandingan. Enam negara memang pulang tanpa satu poin. Aturan pertemuan langsung pada fase grup membuat sejumlah pertandingan terakhir kehilangan ketegangan. Hanya 12 tim tersingkir pada tahap pertama.
Namun tim-tim kecil menghadirkan cerita yang tak bisa dibuat oleh perancang pemasaran mana pun.
Vozinha, penjaga gawang Tanjung Verde, tiba-tiba memiliki pengikut media sosial lebih banyak daripada Tom Brady. Kiper Curaçao Eloy Room membuat rekor 15 penyelamatan untuk memberikan poin Piala Dunia pertama bagi negaranya ketika menghadapi Ekuador.
Pertandingan Irak melawan Prancis mengalami jeda hampir dua jam akibat badai petir di Philadelphia. Iran harus keluar-masuk wilayah Amerika Serikat setelah pertandingan, meskipun dua kali bermain di Los Angeles dan sekali di Seattle, di tengah ketegangan perang dengan negara tuan rumah.
Ada pula kekacauan menyangkut penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Ia semula dipastikan absen pada babak 16 besar melawan Belgia akibat kartu merah. Namun sebuah intervensi mengubah situasi. Penjelasan resmi tidak pernah benar-benar memuaskan.
Kacau dan memalukan, tetapi sangat Piala Dunia.
Di lapangan, para bintang tetap memenuhi janji. Messi, Erling Haaland, Kylian Mbappe, Harry Kane, Ousmane Dembele, dan Jude Bellingham bersaing dalam perebutan sepatu emas serta pemain terbaik.
Cristiano Ronaldo, pada usia 41 tahun, mencoba berpesta untuk terakhir kali. Ia mengakhiri perjalanan Piala Dunia Luka Modric yang berusia 40 tahun dengan bantuan teknologi pendeteksi sentuhan bola menyerupai snickometer dalam kriket. Setelah itu, Ronaldo mengakui turnamen keenamnya akan menjadi yang terakhir.
Haaland memecahkan rekor, menghancurkan harapan Brasil, dan mengguncang Amerika. Norwegia kembali ke panggung utama setelah 28 tahun. Para pendukungnya bahkan menyeberangi Atlantik dengan perahu, lalu pulang membawa kebanggaan.
Inggris akhirnya menghentikan perjalanan Norwegia sebelum menghadapi Argentina. Pertandingan di Stadion Azteca berlangsung pada jam yang membuat pendukung di Inggris kehilangan orientasi waktu. Matahari telah terbit ketika tim mereka membuang keunggulan dan tersingkir secara menyakitkan.
Semua keributan itu berakhir pada satu bola yang datang ke kaki Ferran Torres.
Gol Torres menjadi gol ke-308 sekaligus gol terakhir turnamen. Bertahun-tahun mendatang, orang mungkin lupa pada monolog Tom Cruise, absennya Madonna dari lapangan, atau jeda turun minum yang nyaris setengah jam. Namun mereka akan mengingat Torres membuka kaki kanannya, Rodri mengangkat trofi, dan Messi berjalan meninggalkan panggung dunia.
Spanyol menjadi juara untuk kedua kalinya. Dan, seperti biasa, Jerman kalah lewat adu penalti. (*)







