TANJUNG VERDE, negara kepulauan di Afrika Barat dengan luas hanya 4.033 km², memastikan tim nasionalnya lolos di babak penyisihan Piala Dunia, Sabtu (27/6/2026), yang dihuni tim elite dan langganan piala dunia.
Di babak penyisihan, perjuangan Tanjung Verde tidaklah mudah menghadapi tim sekelas Spanyol yang hasilnya diluar dugaan dengan skor 0-0. Lalu Uruguay 2-2, dan Arab Saudi 0-0.
Hasil tiga kali seri ini sudah cukup bagi Tanjung Verde melenggang ke babak selanjutnya di Piala Dunia 2026.
Menariknya, Tanjung Verde hanyalah negara dengan pendapatan ekonomi yang lebih kecil dibandingkan Indonesia.
Modal ekonomi negaranya dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Tanjung Verde pada tahun 2025 hanya sekitar 2,65 miliar USD tapi mereka membuktikan bahwa sepak bola bukan soal angka di neraca keuangan, melainkan soal mentalitas dan kerja keras.
Beda dengan Indonesia, dengan luas wilayah 1,9 juta km² dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Tahun 2025 mencapai Rp 23.821,1 triliun atau setara 1,44 triliun USD, dan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,11 persen, belum sekalipun lolos ke Piala Dunia.
Padahal, Indonesia memiliki segala modal untuk bersaing. Namun, prestasi sepak bola masih sebatas nostalgia Piala Dunia 1938 ketika Hindia Belanda ikut serta. Setelah merdeka, mimpi itu tak pernah terwujud lagi.
Dari segi ekonomi, perbedaan skala ekonomi kedua negara sangat signifikan. PDB Indonesia jauh lebih besar karena jumlah populasinya yang mencapai lebih dari 285 juta jiwa sedangkan Tanjung Verde adalah negara kepulauan kecil di lepas pantai Afrika Barat dengan populasi sekitar 527.000 jiwa.
Dari segi liga sepakbola, Liga Indonesia lebih sering jadi panggung sinetron. Wasit kerap dianggap “aktor utama,” suporter jadi “penulis naskah,” dan federasi jadi “produser” yang sibuk mengatur jadwal tanpa logika. Sementara itu, Tanjung Verde dengan liga kecilnya bisa melahirkan pemain yang mampu meredam kedigdayaan Spanyol di lapangan hijau Piala Dunia dengan skor 0-0.
Indonesia punya ribuan pulau, tiga zona waktu, dan segudang sumber daya alam. Tanjung Verde hanya segelintir pulau di tengah Atlantik. Namun, dalam sepakbola, pulau kecil itu rupanya lebih bersinar.
Indonesia menggelontorkan anggaran besar untuk olahraga, tapi sering tersedot ke birokrasi dan proyek tak jelas. Tanjung Verde, dengan anggaran negara yang lebih kecil, justru lebih berhasil membina pemain sepakbolanya.
Tanjung Verde menunjukkan bahwa mentalitas juang bisa mengalahkan keterbatasan. Indonesia, dengan segala kelebihan, justru sering kalah oleh ego politik dan kepentingan pribadi.
Di Tanjung Verde, sepakbola jadi simbol persatuan. Di Indonesia, sepakbola sering jadi alat politik, dari janji kampanye hingga pencitraan. Hasilnya? Prestasi nihil, tapi baliho penuh wajah politisi dengan jersey timnas.
Suporter Indonesia rela berkorban demi timnas, bahkan sampai ke luar negeri. Rakyat Indonesia juga rela berkorban, tapi sering kali demi janji politik yang tak pernah ditepati politisi dan penguasa.
Indonesia membangun stadion megah, tapi timnas tetap kalah. Sama seperti membangun jalan tol panjang, tapi kadang macet juga. Infrastruktur besar tidak menjamin kualitas isi.
Mungkin Indonesia harus belajar dari Tanjung Verde bahwa mimpi besar tidak butuh populasi raksasa atau anggaran triliunan, tapi butuh fokus, konsistensi, dan keberanian.
Jadi, pertanyaannya: Indonesia dengan 285 juta lebih penduduk, kapan ya benar-benar bisa masuk ke Piala Dunia? Ataukah kita akan terus jadi penonton setia Piala Dunia sambil menertawakan diri sendiri?







