PKM Tim Dosen Polimarim Sosialisasikan Ergonomi Industri di PT Pelindo TPK New Makassar

PKM ERGONOMI - Tim dosen Politeknik Maritim AMI Makassar (Polimarim) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema Sosialisasi Penerapan Ergonomi Industri di kantor PT Pelindo Terminal Petikemas New Makassar, Jalan Galangan Kapal, Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo, Makassar, Rabu (1/6/2026). (Dok P3M Polimarim)

MAKASSAR, SOLUSINEWS.ID – Tim dosen Politeknik Maritim AMI Makassar (Polimarim) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema Sosialisasi Penerapan Ergonomi Industri di kantor PT Pelindo Terminal Petikemas New Makassar, Jalan Galangan Kapal, Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo, Makassar, Rabu (1/6/2026).

Kegiatan PKM ini menyasar karyawan terminal, terutama pekerja dengan pola kerja statis dan operator alat angkat. Tidak kurang 40-an peserta menghadiri kegiatan sosialisasi di ruang aula Lantai 3 TPK New Makassar.

Head Terminal PT Pelindo TPK New Makassar, Teguh Firdaus, mengatakan sosialisasi tersebut penting karena aktivitas di terminal petikemas menuntut ketahanan fisik, konsentrasi, dan kepatuhan pada prosedur kerja. Menurut dia, pemahaman ergonomi dapat membantu pekerja mengenali posisi tubuh, beban kerja, dan risiko kelelahan sejak awal.

Bacaan Lainnya

“Kami berterima kasih kepada tim dosen Polimarim. Sosialisasi penerapan ergonomi ini sangat bermanfaat, terutama bagi karyawan yang bekerja statis maupun operator crane atau alat angkat yang berpotensi mengalami penyakit akibat kerja,” kata Teguh.

Wakil Direktur 4 Bidang Kerja Sama Polimarim, Dr Ir Anwar Tahir ST MT MM IPM ASEAN Eng, mengatakan kegiatan PKM menjadi ruang berbagi pengetahuan antara kampus dan industri.

Ia menilai masih banyak pekerja menjalankan aktivitas berdasarkan kebiasaan lama, tanpa menilai apakah cara kerja itu aman, efisien, dan sesuai dengan prinsip Kesehatan, keselamatan, dan efisiensi kerja.

“Banyak karyawan kadang menyepelekan aktivitas kerja karena sudah terbiasa. Padahal, aktivitas itu bisa saja kurang tepat atau tidak harmonis dengan tubuh dan sistem kerja berdasarkan ergonomi,” ujar Anwar.

Anwar mengatakan ergonomi perlu ditempatkan sebagai bagian dari budaya keselamatan. Dalam lingkungan industri, katanya, produktivitas tidak hanya ditentukan oleh kecepatan kerja, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan menjaga kesehatan pekerja. Bila postur, beban, dan lingkungan kerja diabaikan, risiko cedera dapat meningkat.

Dosen Polimarim, Wardina Suwedy ST MT, tampil sebagai pemateri. Ia menjelaskan ergonomi sebagai upaya menyesuaikan pekerjaan dengan pekerja, bukan sebaliknya.

Materi yang dipaparkan mencakup risiko fisik di area kerja, dampak posisi kerja yang salah, kelelahan akibat kerja statis, manual material handling, manajemen postur, pemulihan energi, pencahayaan, kebisingan, dan kebijakan perusahaan.

“Ergonomi bukan tentang memanjakan pekerja. Ergonomi memastikan tubuh bekerja secara aman, sehat, dan efisien sesuai kapasitasnya,” kata Wardina saat memaparkan materi.

Dalam paparannya, Wardina menjelaskan kerja statis dapat membuat otot tegang karena aliran darah tidak optimal. Kondisi itu bisa memicu rasa pegal, nyeri, hingga gangguan muskuloskeletal bila berlangsung terus-menerus. Ia juga mengingatkan pekerja agar tidak mengabaikan sinyal tubuh, seperti leher kaku, pinggang nyeri, bahu tegang, atau kesemutan.

Materi pelatihan juga menekankan pentingnya desain ruang dan stasiun kerja. Posisi meja, kursi, monitor, pijakan kaki, serta jangkauan tangan perlu disesuaikan dengan karakter tubuh pekerja. Untuk pekerjaan berdiri, tinggi permukaan kerja juga harus mengikuti jenis aktivitas, baik pekerjaan presisi, ringan, maupun berat.

Pada bagian pengangkatan beban manual, peserta mendapat penjelasan tentang cara mengangkat yang benar. Beban dianjurkan tetap dekat dengan tubuh, punggung dijaga netral, dan kekuatan angkat berasal dari kaki, bukan pinggang. Wardina juga menyinggung pentingnya istirahat mikro dan rotasi postur untuk membantu pemulihan energi.

Kegiatan PKM itu ditutup dengan senam bersama untuk peregangan otot serta penekanan bahwa penerapan ergonomi membutuhkan komitmen perusahaan dan partisipasi pekerja.

Peralatan kerja, pelatihan, serta standar operasional harus berjalan bersama agar keselamatan dan produktivitas dapat terjaga. “Rehat dari aktivitas bisa dilakukan 3-5 menit dan dengan teknik mendongakkan kepala serta menarik tangan ke belakang, kita bisa memastikan titik-titik dimana badan kita yang lelah,” pungkas Wardina.

Dengan pendekatan itu, Polimarim berharap pengetahuan ergonomi tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi diterapkan langsung dalam rutinitas kerja harian di terminal oleh seluruh karyawan Pelindo. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *