Bukan Sekadar Turun Lapangan: Mahasiswa PBL 1 FKM Unhas Hadir di Desa Lise Sidrap Belajar Akar Masalah Kesehatan Masyarakat

SIDRAP, SOLUSINEWS.ID – Di tengah ramainya pagi di Dusun 2 Desa Lise, sebuah langkah besar justru digulirkan. Dengan penuh semangat dan kesungguhan, tujuh mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin akan memulai babak baru proses pembelajaran mereka.

Mereka datang sebagai fasilitator yang siap mendengar, menggali, dan bergerak bersama masyarakat.

Seminar Awal Praktik Belajar Lapangan I (PBL I) FKM Unhas yang berlangsung di rumah Kepala Dusun itu bukan sekadar seremoni pembuka. Di hadapan 28 partisipan dari unsur pemerintah desa, kader, tokoh masyarakat, hingga warga masyarakat, mahasiswa menyampaikan misi yang jelas yaitu mereka datang untuk belajar dan memberdayakan masyarakat, bukan menggurui. Dan itu, di mata masyarakat, adalah semangat yang sangat harapkan.

Koordinator Desa, Yosi Sevanya Patimang menyampaikan bahwa pendekatan yang diusung adalah pemberdayaan, bukan intervensi.

“Kami hadir sebagai fasilitator yang mendampingi masyarakat untuk berubah. Untuk itu, kami akan mencari tahu bersama apa akar masalah kesehatan di desa ini. Setelah itu, kami akan bermusyawarah dengan masyarakat untuk memprioritaskan masalah yang akan diatasi, dan mendiskusikan langkah apa yang paling tepat untuk diambil,” ujarnya.

Sebuah pernyataan yang sekaligus menjadi tantangan bagaimana mahasiswa mampu menjaga konsistensi peran sebagai pendengar dan fasiltator, di tengah kompleksitas sosial budaya masyarakat.

Dosen supervisor lapangan, Dr. Herlina A. Hamzah, SKM, MPH, menegaskan perbedaan fundamental antara PBL dan KKN.

“Kami tidak datang untuk membangun fisik desa, tetapi membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat melalui potensi yang sudah ada. Ini adalah lompatan pembelajaran yang menuntut keberanian, kesabaran, dan ketajaman analisis sosial” jelasnya.

Kata-kata ini seakan menjadi pemicu bagi mahasiswa untuk membuktikan bahwa kualitas SDM tidak diukur dari sekadar nilai di kampus, melainkan dari sejauh mana mereka mampu menyentuh kehidupan nyata di masyarakat.

Sambutan hangat datang dari Kepala Desa Lise, H. Rustam Benteng. Dengan penuh harap, ia menyampaikan bahwa mahasiswa ini butuh pendampingan dari masyarakat.

“Bukan hanya agar mereka pulang dengan laporan tebal, tetapi agar mereka kembali dengan hasil yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ucapnya.

Ucapannya menjadi tantangan balik bagi mahasiswa sekaligus pengingat bahwa tanggung jawab sosial tidak berakhir saat kegiatan usai.

Rencana kerja mahasiswa yang meliputi observasi, wawancara, dan pendataan kondisi kesehatan masyarakat akan menjadi ujian nyata.

Di sinilah letak tantangan sebenarnya apakah mereka mampu menggali data yang jujur dan mendalam, membangun kepercayaan warga, dan pada akhirnya merumuskan rekomendasi yang aplikatif dan berpihak pada masyarakat?

Kegiatan PBL I ini bukanlah sekadar agenda akademik tahunan, namun ini menjadi wahana pembentukan karakter, laboratorium kepekaan sosial, dan ruang uji keberanian berpikir kritis bagi mahasiswa.

Semangat ini sejalan dengan cita keempat Asta Cita, yang menekankan peningkatan kualitas SDM dan partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan. Desa Lise bukan lagi sekadar lokasi. Ia adalah guru bagi para calon pemimpin kesehatan di masa depan.

Di akhir sesi, diskusi ringan mengalir, tawa dan canda melebur dalam kebersamaan, dan foto bersama menjadi saksi bahwa kolaborasi sejati baru saja dimulai. Para mahasiswa pun pulang dengan satu tugas menanti: membuktikan bahwa mereka bukan sekadar mahasiswa yang lewat, tetapi mengambil peran dari perubahan yang dimulai dari bawah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *