Dari Ujung Timur Ke Kota Daeng: Kisah Peyon, Mahasiswa Papua Pegunungan yang Ingin Merajut Mimpi Di Makassar

DI BAWAH langit Makassar yang selalu ramai dengan kendaraan yang menghiasi jalanan di sepanjang hari, dan segala hiruk-pikuk yang ada di kota daeng ini, ada nama Peyon- mahasiswa asal papua pegunungan.

Tepatnya di kampung wanam- menatap bangunan Universitas Islam Makassar (UIM) Al- gazali, tempat ia kini melanjutkan perguruan tinggi dan menanam banyak harapan di dalamnya.

Ia memutuskan meninggalkan rumah nya menuju Makassar yang berjarak ribuan kilometer jauhnya.

Ia datang bukan untuk menukmati kehidupan kota, akan tetapi ia datang dengan tekad yang besar untuk melanjutkan pendidikan nya ke jenjang yang lebih tinggi.

Bacaan Lainnya

Tak hanya itu ia juga berusaha menyatu dalam lingkungan baru, bahkan mengikuti mapaba (masa penerimaan anggota baru) sebagai langkah awal kaderisasi PMII.

Meskipun peyon seorang nonis. Semua ia jalani demi mimpi yang ia ingin genggam.

Jalil peyon, atau yang akrab disapa Peyon, di besarkan di salah satu kampung bernama wanam daerah terpencil yang ada di provinsi papua pegunungan.

Wanam, kampung kecil yang di kelilingi pegunungan dan kabut yang menyelimuti di pagi hari, serta keindahan alam nya yang terpancar, tetapi tidak dengan kondisi sosial yang ada di sana.

Sejak kecil ia terbiasa hidup dalam keterbatasan- berjalan jauh menuju sekolah, belajar dengan perlengkapan seadanya, hingga menyaksikan perjuangan masyarakatnya yang selalu mengedepankan kerbersamaan

Sebagian orang menganggap kuliah di kota besar itu terlalu jauh. Tetapi tidak dengan keluarga dan teman teman di kampungnya yang terus memotivasi peyon agar giat belajar.

Keputusan memilih universitas islam Makassar juga bukan tanpa keraguan. Sebagai nonis, ia sempat bertanya-tanya apakah ia bisa di terima sepenuhnya.

Namun ia percaya bahwa ruang pendidikan seharusnya menjadi tempat semua orang menaruh dan mewujudkan mimpi.

“Saya hanya mau belajar dengan baik, jaga diri, dan pulang bawa ilmu. Katanya dengan suara pelan namun penuh keyakinan.

Dengan doa keluarga dan tekad yang besar dan menggebu-gebu sebagai seorang pemuda, ia meninggalkan tanah kelahiranya untuk menjemput masa depan.

Tiba di Makassar, peyon tinggal di asrama Papua bersama kakaknya. Dikamar sederhana itu ia memulai perjalanan hidupnya yang baru.

Setiap hari ia berangkat ke kampus, menyatu dalam lingkumgan akademik yang bermayorits muslim. Namun alih-alih merasa asing, ia justru merasa diterima.

Salah satu pengalaman yang paling membekas ialah ketika ia mengikuti MAPABA(Masa penerimaan anggota baru)sebagai anggota/kader dari organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Mapaba adalah kegiatan yang setiap tahun di adakan oleh kampus UIM yang berhubungan erat dengan PMII, karena bersama dalam naungan NU (Nahdatul Ulama).

Sebagai seorang nonis,tekadnya untuk bergabung PMII membuat banyak orang bertanya-tanya sekaligus kagum.

Bagi Peyon, perbedaan keyakinan bukan alasan untuk menuutup diri dari organisasi yang mengajarkan kemanusiaan, kebersamaan ,dan kepedulian sosial serta menjunjung tinggi toleransi.

“Di PMII, saya belajar banyak hal,saya di terima dengan baik, tidak ada yang dibeda-bedakan.”ungkapnya sambil melemparkan senyum tipismya yang terlihat manis dan tulus.

MAPABA menjadi ruang dimana ia menemukan teman baru,belajar berdiskusi, hingga memperluas pandanganya terhadap keberagaman yang ada.

Perjalanan akademik di UIM pun semakin berwarna. Terkadang ia kesulitan mengikuti ritme kuliah, terkadang rindu akan rumah datang menghampiri.

Namun ia tetap berjalan fokus terhadap apa yang ingin ia gapai, setiap tugas, diskusi kelas, kegiatan organisasi menjadi bukti bahwa ia sedang menapaki jalan yang benar.

Di kesunyian malam di asrama papua, Peyon sering mengingat kampung halamannya. Ia tahu langkah yang sudah ia mulai harus ia akhiri dengan hasil yang ia inginkan, perjuangannya tak berhenti di sini, sampai semua berakhir degan manis.

Peyon sebagai salah satu mahasiswa nonis di UIM AL-GAZALI, sekaligus kader PMII.

Ia menjadi wajah dari keberagaman yang saling merangkul, ia membuktikan bahwa perbedaan bukan penghalang melainkan sebuah jembatan untuk mempermulus jalan menuju keuksesan.

Kelak, ketika kembali ke wanam, ia akan membawa lebih dari sekedar ilmu. Ia membawa pengalaman, keberanian, dan cerita tentang seorang anak pedalaman yang tinggal jauh dari perkotaan ternyata mampu menembus batas-batas yang selama ini seolah memisahkan dan terasa jauh.

Ini menjadi inspirasi kepada seluruh anak Indonesia yang tinggal jauh di pedalaman bahwa siapapun bisa menjadi apapun, selama kita bersungguh-sungguh.

Akhirnya, perjuangan peyon adalah cerminan dari tantangan kolektif kita sebagai bangsa.

Ia adalah bukti bahwa di tengah maraknya narasi akan perpecahan antar bangsa, selalu ada pemuda yang memilih jalan damai agar kelak bias menjadi salah satu pemuda yang dapat merubah negaranya lebih baik.

Dan kini ia memandang ke depan, dan yang harus kita tahu bahwa yang berharga bukan lah gelar, tetapi apa yang dapat kita berikan kepada khalayak masyarakat dan memberikan senyuman bahagia kepada mereka semua.

Dan dari situlah mimpi itu benar-benar dirajut- di Antara keberagaman yang memperkaya, bukan memisahkan.

Penulis: Abdillah Ibnu Umar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar