Dekan Fisip Untad Prof Muh Khairil Nostalgia ala Santri di Warkop Azzahra Makassar

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tadulako (Fisip Untad) Palu, Sulawesi Tengah, Prof Dr Muhammad Khairil S.Ag, M.Si, bercengkrama dengan rekan-rekannya di Bandung Street Coffee, Jl Ujung, Makassar, Jumat (29/4/2022).(*)

MAKASSAR, SOLUSINEWS.ID – Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tadulako (Fisip Untad) Palu, Sulawesi Tengah, Prof Dr Muhammad Khairil S.Ag, M.Si, hadir di Warkop Azzahra, Jl Ujung, Kota Makassar, Jumat (29/4/2022).

Warkop induk Azzahra yang  berlokasi di ‘tusuk sate’ Jl Ujung-Jl Bandang ini telah berganti nama menjadi Bandung Street Coffee sejak 30 Januari 2022. Warkop kembar Azzahra lainnya berada di Jl Bandang, saling berhadapan.

Profesor termuda di Untad Palu ini memanfaatkan perjalanan mudiknya dari Palu menuju kampung halaman di Kabupaten Bantaeng, dengan bersilaturahim bersama sejumlah alumni Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara (Dago) Makassar.

Sekadar diketahui, Muh Khairil, pernah mengenyam pendidikan santri di pesantren Dago angkatan 1991-1997.

Bacaan Lainnya

Sebelum merayakan lebaran Idulfitri di kampung halamannya di Bantaeng, Khairil, sapaannya, pun menyempatkan diri bernostalgia dengan sejumlah rekan seangkatannya di ponpes Dago di Kafe Bandung Street Coffee (Warkop induk Azzahra) Makassar.

Reuni alumni santri seangkatannya sengaja digelar di Kafe Bandung Street Coffee karena salah satu pengelolanya juga alumni Dago 97 yaitu Ibrahim Umar yang akrab disapa Ibora atau Ibe.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tadulako (Fisip Untad) Palu, Sulawesi Tengah, Prof Dr Muhammad Khairil S.Ag, M.Si bersama rekan-rekannya dari alumni Ponpes Dago Makassar.

Pertemuan di lantai dua Kafe Bandung Street Azzahra ini pun diisi dengan sejumlah cerita nostalgia masa lalu saat mondok di pesantren dan masa-masa kuliah yang meninggalkan kesan mendalam.

Kisah-kisah yang sempat ‘terpendam’ atau pernah menjadi rahasia ada yang terungkap dalam pertemuan tersebut. Canda, dan tawa pun kerap pecah tanpa dibatasi ‘status’ dan profesi masing-masing.

Setelah berjam-jam saling bercengkrama, berbagi cerita dan pengalaman, hingga jelang dini hari, Prof Muh Khairil, bersama rekan-rekannya pun beranjak dan berpisah meninggalkan Kafe Bandung Street Coffee.

Khairil pamit untuk melanjutkan perjalanan ke kampung halamannya di Kabupaten Bantaeng yang berjarak sekitar 138 kilometer dari Kota Makassar.

Sekilas Prof Muh Khairil

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *