Ini Solusi 4 Negara di Dunia Atasi Banjir di Kota Mereka

  • Whatsapp
pertahanan banjir Tpkyo, Jepang (Kentaro Takahashi/The New York Times)

SOLUSINEWS.ID – Banjir di kota-kota besar selalu menjadi persoalan klasik, khususnya di Indonesia. Tiap tahun sejumlah daerah di Indonesia dilanda banjir. Apalagi di musim hujan.

Bahkan kota ikon di Indonesia, Jakarta, sebagai ibu kota metropolitan negara tak luput dari bencana banjir sejak Indonesia meraih kemerdekaanya tahun 1945.

Bacaan Lainnya

Sejumlah cara dan upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi banjir musiman di ibu kota maupun daerah lainnya seperti normalisasi atau naturalisasi sungai, dan upaya lain-lain.

Namun bencana banjir tetap saja tak bisa ditangkal hingga saat ini. Begitu juga sejumlah kota metropolitan dan ibu kota provinsi di Indonesia.

Banjir di perkotaan yang menyebabkan fasilitas umum dan pemukiman penduduknya belum bisa dicegah sejak bertahun-tahun silam, sejak pemimpin pemerintahan berganti-ganti di setiap periode.

Di sejumlah negara lain pun mengalami masalah serupa. Namun, adapula sejumlah negara yang telah mampu mengatasi bencana banjir di daerahnya dengan membuat sejumlah terobosan.

Disadur dari situs cnn.indonesias.com, berikut sejumlah solusi yang telah dilakukan sejumlah negara di dunia hingga berhasil mengatasi persoalan banjir di kota masing-masing.

  1. Rotterdam, Belanda
pertahanan banjir Kota Rotterdam, Belanda

Belanda tak lagi membangun tanggul-tanggul dan membeton pinggir sungai untuk mencegah banjir. Mereka mencoba memberi ruang ketika sungai-sungai tengah kelebihan air.

60 persen wilayah negara ini rawan banjir. Apalagi 26 persen wilayah daratan  Belanda berada di di bawah permukaan laut.

Belanda berjuang mengatasi banjir sejak berabad lalu. Seperti membangun kincir angin sejak abad 14 sebagai salah satu solusi mengatasi banjir dengan memompa kelebihan air untuk mengeringkan areal persawahan.

Belanda juga membuat banyak dam untuk menahan luapan air laut tak memasuki daratan. Mereka memadukan bukit pasir, tanggul, membuat bendungan, dan perencanaan tata kota.

Belanda juga merancang taman dan area publik di kota-kota mereka sebagai waduk darurat ketika air membanjiri kota.

Sejak banjir besar yang menewaskan 1.800 jiwa pada tahun 1953, Belanda membangun sistem pertahanan banjir besar-besaran.

Pada 1997, Belanda membangun penahan badai dari lautan yang dinamakan Maeslantkering. Gerbang besi besar dibangun di muka sungai Niuewe Maas yang menjadi jalur masuk ke pelabuhan Rotterdam.

Dua gerbang besi raksasa digunakan untuk menutup muara sungai. Satu gerbang ini punya panjang serupa dengan tinggi menara Eifel untuk menahan badai dari laut.

  1. Tokyo, Jepang
pertahanan banjir Tpkyo, Jepang (Kentaro Takahashi/The New York Times)

Kota Tokyo memiliki penampungan air bawah tanah yang super tinggi dan besar yang disebut katedral bawah tanah atau dikenal sebagai proyek G-Cans.

Tingginya 25,4 meter atau setara tinggi gedung 6 lantai. Penampungan ini dibangun selama 13 tahun sejak tahun 1993 dan selesai pada tahun 2006 dengan total biaya sekitar Rp 36 triliun dengan nilai dollar saat itu sekitar Rp 13 ribu.

Lokasi kanal terletak 22 meter di bawah tanah Kasukabe, utara Tokyo. Penampungan ini adalah sistem pertahanan banjir di Tokyo dengan nama program Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel (MAOUDC).

Sistem ini terdiri dari kanal dan ruangan super besar yang disanggah oleh puluhan menara silinder setinggi 70 meter.

Sistem pertahanan banjir ini punya lima ruangan silinder G-Can yang masing-masing bisa menampung hingga 13 juta galon air.

Banjir dari sungai-sungai yang lebih kecil akan disalurkan lewat sistem kanal tadi dan disalurkan pada sungai Edo yang lebih besar.

Jika sungai sudah tak mampu lagi menampung, maka air akan dialirkan ke salah satu dari lima G-Can yang ada di sistem tersebut.

Tokyo adalah kota paling rawan banjir karena wilayahnya dilalui oleh 5 sungai besar dan puluhan sungai kecil yang meluap tiap musim.

  1. Venice, Italia
pertahanan banjir Kota Venice, Italia (andrea merola/EPA)

Penanggulangan banjir di Venice, Italia, menggunakan teknologi MOSE Project yaitu sistem penanggulangan banjir dari air laut dengan menggunakan gerbang yang bisa bergerak.

  1. Korea Selatan
pertahanan banjir Korea Selatan (iamrenew.com)

Korea Selatan membangun dam terpanjang di dunia di tenggara semenanjung Korea. Panjangnya 33 kilometer, lebar 36,5 meter, dan tinggi 290 meter.

Dam ini dijuluki Tembok Besar di laut. Pemerintah Koera Selatan menghabiskan Rp 23,9 triliun saat itu untuk membangun dam terpanjang penahan air laut tersebut .

Tembok laut ini selesai dibangun pada tahun 2010 yang digunakan untuk mengamankan muara Saemangeum dari gelombang pasang Laut Kuning.(*)

solusibayar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *