MAKASSAR, SOLUSINEWS.ID — Ketua Dewan Pakar KKLT, Prof. Dr. Jasruddin, M.Si., yang juga Guru Besar UNM dan Rektor Universitas Nusantara, bersama Senior Coordinator Sustaining & Growth Project PT Vale Indonesia Tbk, La Ode Muhammad Ichman, mengisi acara Dialog Internal Kerukunana Keluarga Luwu Timur (KKLT) di Kafe Dawai / Saoenk Cobek Perintis, Jl Perintis Kemerdekaan Kilometer 9, Kota Makassar, Sabtu (15/8/2026), sebagai narasumber.
Dialog internal KKLT yang mengusun tema ““Dua Dekade Kebersamaan: Menguatkan Silaturahmi, Melanjutkan Kontribusi, Membangun Luwu Timur yang Lebih Maju dan Sejahtera” ini merupakan rangkaian kegiatan Milad ke-20 Tahun 2026.
Dialog dimoderatori Wakil Ketua KKLT Bidang Organisasi, Program dan Kebijakan Strategis, Asri Tadda.
Jasruddin memberikan perspektif akademik dan kelembagaan, sementara Ichman membawa perspektif dunia usaha sekaligus pengalaman panjang PT Vale dalam menjalankan aktivitas industri dan program pengembangan masyarakat di Luwu Timur.
Dalam dialog tersebut terungkap bahwa pembangunan Luwu Timur tidak dapat dilihat semata-mata dari ukuran pertumbuhan ekonomi dan investasi. Namun, juga pembangunan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi lokal, ketahanan sosial, serta keberlanjutan lingkungan juga menjadi bagian penting dari masa depan daerah.
Ichman memaparkan empat dimensi yang dinilai memiliki kaitan erat dengan masa depan Luwu Timur, yakni ekonomi, human capital, social cohesion, dan lingkungan. Menurutnya, keempat dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Penguatan ekonomi, misalnya, membutuhkan SDM yang kompeten. Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi juga perlu ditopang ketahanan sosial serta praktik pembangunan yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
“Kalau kita bicara tentang masa depan Luwu Timur, kita tidak bisa hanya melihat satu dimensi. Ada ekonomi, ada human capital, ada social cohesion, dan tentu saja lingkungan. Keempatnya harus bergerak bersama,” kata Ichman dalam dialog tersebut.

Ia juga menekankan pentingnya membangun SDM yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Pendidikan, menurut dia, tidak cukup hanya dipahami sebagai perluasan akses, tetapi harus mampu menghasilkan kompetensi yang dibutuhkan daerah dan dunia kerja.
Karena itu, pengembangan human capital dapat diarahkan melalui pendidikan vokasi, peningkatan kompetensi, upskilling, program magang, hingga pengembangan kepemimpinan generasi muda.
Gagasan tersebut kemudian berkembang dalam diskusi yang melibatkan peserta. Sejumlah peserta menyampaikan pertanyaan, masukan, hingga gagasan mengenai bagaimana KKLT dapat memainkan peran yang lebih strategis dalam pembangunan Luwu Timur.
Bagi KKLT, diaspora tidak semestinya hanya menjadi kelompok masyarakat yang menjaga hubungan emosional dengan daerah asal. Jejaring yang terbentuk selama dua dekade dapat menjadi modal sosial untuk menghadirkan kontribusi yang lebih konkret.
Dengan anggota dan jejaring yang tersebar di berbagai wilayah, KKLT memiliki potensi untuk mempertemukan sumber daya profesional, akademisi, pelaku usaha, tokoh masyarakat, dan generasi muda asal Luwu Timur dalam satu ekosistem kontribusi.
Dalam konteks itu, organisasi diharapkan tidak berhenti pada agenda silaturahmi, tetapi mampu menjadi ruang pertukaran pengetahuan, pengembangan kapasitas, serta penyusunan gagasan strategis untuk daerah.
Dialog juga menyoroti pentingnya kolaborasi multipihak. Pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat sipil, organisasi kemasyarakatan, serta diaspora dinilai memiliki peran masing-masing dalam menjawab tantangan pembangunan Luwu Timur.
Dari diskusi tersebut kemudian mengemuka sejumlah poin rekomendasi untuk penguatan organisasi dan kontribusi KKLT ke depan.
Rekomendasi tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa peringatan dua dekade KKLT tidak hanya dimaknai sebagai seremoni ulang tahun, tetapi juga sebagai momentum untuk mengevaluasi perjalanan organisasi dan merumuskan arah kontribusi pada masa mendatang.
Menjaga Silaturahmi, Melanjutkan Kontribusi
Dua puluh tahun setelah didirikan, tantangan KKLT tentu tidak lagi sama seperti ketika organisasi tersebut pertama kali dibentuk pada 2006.
Jika pada awalnya kebutuhan utama adalah membangun wadah silaturahmi bagi diaspora Luwu Timur, maka perkembangan zaman menuntut organisasi untuk mengambil peran yang lebih luas.
Kekuatan KKLT ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga akar kekeluargaan sekaligus beradaptasi dengan kebutuhan generasi baru.
Rangkaian acara ditutup tepat pukul 16.00 WITA. Seluruh peserta kemudian mengikuti sesi foto bersama sebagai penanda dua dekade perjalanan KKLT.
Dari Cafe Dawai Tamalanrea, Makassar, peringatan 20 tahun KKLT pun ditutup dengan satu pesan besar bahwa perjalanan dua dekade bukanlah garis akhir, melainkan titik untuk memulai babak baru—dengan silaturahmi yang tetap terjaga dan kontribusi yang semakin nyata bagi Luwu Timur.(*)







