Resign dari Perusahaan Bergaji Dolar, Lulusan Kampus Perhotelan ini Sukses Bisnis Kopi di Kampung

Barista Kedai Kosim.(google maps)

SOLUSINEWS.ID – Sapaannya Tama dengan nama lengkap Gautama Sastra Waskita. Pria kelahiran 23 Juni 1985 di Tulungagung ini adalah owner dari kedai kopi bernama Kosim alias Kopi Siang Malam.

Kedai kopinya terletak di Jl Kyai Haji Wahid Hasyim, Kauman, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Tahun 2015, Tama bersama istrinya mulai merintis Kedai Kopi Siang malam (Kosim) di kampung halamannya di Tulungagung.

Bersumber dari channel YouTube Pecah Telur, Tama menceritakan perjalanan hidup dan bisnisnya hingga bisa berkembang dan bertahan melalui pandemi hingga saat ini.

Bacaan Lainnya

Background pendidikan sebagai mahasiswa lulusan bisnis perhotelan di sebuah kampus swasta, rupanya membuat Tama jatuh cinta dalam bisnis di dunia kuliner.

Namun secara spesifik, ia mengaku memiliki passion pada industri kopi. Bahkan, saat masih kuliah, ia sempat membuka coffee shop.

Namun, usaha coffe shopnya hanya bertahan sekitar 1 tahun. Bisnis coffe shopnya saat itu cukup membantu biaya kuliah sekaligus menjadi pengalamannya di bisnis kopi.

Sebelum sukses dengan Kedai Kosim miliknya, Tama beberapa kali mengalami kegagalan menjalani usaha seperti jualan bubur ayam, susu kedelai, nasi bakar, dan bisnis kuliner lainnya.

Kedai Kosim

Nama Kosim dan Memilih Bisnis Kopi

Tentang nama Kedai Kosim (Kopi Siang Malam), Tama mengaku penamaan tersebut tak lepas dari hasil diskusi dengan istrinya.

Apalagi, di Tulungagung saat itu lagi booming bisnis warung dan kedai kopi yang ramai dikunjungi warga mulai siang hingga malam.

Selain itu, ada juga sosok kyai bernama Haji Kosim yang banyak membantu Tama saat memiliki usaha kopi di Cikarang tahun 2011 silam.

Olehnya, Tama mengatakan Kosim adalah nama yang memiliki makna orang pilihan sehingga ia mengharapkan usaha kedai kopinya pun bisa menjadi pilihan di Tulungagung.

Alasan dirinya memilih bisnis kopi karena beberapa hal.

Menurutnya Indonesia merupakan negara penghasil kopi keempat terbesar dunia dan misinya melalui Kedai Kosim ingin menyebar cinta terhadap kopi tanah air.

Selain itu, bahan bakunya melimpah, keuntungan marginnya besar, serta bahan bakunya bisa didapatkan dengan harga yang cukup terjangkau pula.

Ia mengibaratkan bisnis kopi ibarat jualan air. Dengan modal Rp 1.000 bisa dijual Rp 3.000, atau modal Rp 6.000 bisa dijual Rp 15 ribu sampai Rp 35 ribu.

Ia melanjutkan, bisnis kopi itu long lasting. Artinya bahan baku minuman kopi tidak mudah rusak seperti roast bean yang bisa bertahan dalam kurung waktu 2 minggu.

“Beda sayur mayur, ketika jual makanan seperti buah atau sayuran, itu mudah busuk dalam 3-4 hari. Sedangkan kopi bisa 2 minggu. Jadi low risk,” jelasnya.

Bisnis minuman kopi juga bisa bermain di level lebih tinggi ketika menyasar konsumen lifestyle atau prestige / prestise.

“Ketika orang itu sudah berada di level prestige, maka harga itu tidak relevan lagi,” sebutnya.

Ia mencontohkan brand kopi starbuck dimana sebagian orang yang datang ke Starbuck itu hanya untuk foto selfie di tempat tersebut.

Kemudian mengeluarkan duit Rp 35 rb hingga Rp 50 ribu hanya untuk segelas kopi, padahal kopinya sama dengan kopi yang ada di coffeeshop yang dijual seharga Rp 15 ribu pergelas.

Resign sebagai Karyawan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *