Sebelum menjadi owner Kedai Kosim yang memiliki sejumlah jejaring usaha kopi lainnya, Tama pernah bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan perhotelan dengan gaji dollar di Kota Bekasi.
Di perusahaan itu, Tama bahkan sempat menduduki posisi yang lumayan tinggi yaitu sebagai head marketing area jabotabek.
Level jabatan diatasnya lagi, hanya diisi orang asing, bukan orang pribumi. “Saya dapat gaji dolar, ada driver dan mobil dinas, rumah dinas, dan gaji besar saat itu,” ungkapnya.
Lalu apa alasan Tama meninggalkan perusahaan yang telah memberinya kenyamanan dan penghasilan lumayan besar tersebut ?
“Saya merasa belum mengeluarkan potensi terbaik saya, karena mentok di posisi itu. Jadi saya resign (untuk) memajukan diri, bukan mengundurkan diri. Mencoba untuk full di dunia usaha,”
Baginya tidak ada jalan kembali, “Jadi saya harus all out di dunia pengusaha,” tambahnya.
Saat masih bekerja di perusahaan, Tama mengaku bersama istri memang sudah mencoba menjalankan usaha skala kecil. Namun hasilnya tidak maksimal karena belum bisa fokus.
Keputusan resign Tama saat itu rupanya ditentang oleh keluarga karena menurut mereka, Tama sudah berada di posisi yang lumayan.
“Saya banyak mendapat penolakan. Dari orangtua, istri, kenapa sih harus resign. Padahal kan sudah enak, dapat gaji cukup tinggi,” katanya.

Titik Jatuh dan Kebangkitan
Tama mengaku pernah berada di titik terendah dalam hidupnya yaitu ketika terjerat utang hingga 1 miliar lebih.
Saat itu banyak usaha yang ia jalankan dengan modal bank, bukan modal sendiri.
“Titik nadir saya ketika masuk di lingkup riba. Alhamdulillah semua usaha yang saya jalani dengan modal bank, bangkrut semua.
Kenapa saya bilang Alhamdulillah karena saya merasa itu mungkin salah satu cara Allah mencuci saya terlepas dari jeratan riba,” tuturnya.
Selanjutnya, Tama bersama istri memutuskan untuk pulang kampung dan membangun usaha kedai kopi.
Rencana itupun sempat mendapat penolakan dari lingkup keluarganya di Tulungagung.
Menurutnya hal itu wajar karena mungkin perbedaan mindset saja. Apalagi kebanyakan keluarga Tama banyak yang bekerja sebagai pegawai negeri di intansi pemerintahan.
“Jadi butuh waktu lama untuk meyakinkan, termasuk orangtua sendiri,” ujarnya.
Meski demikian, Tama mengaku kesuksesannya hingga saat ini mengembangkan Kedai Kosim tak lepas dari doa orangtua. “Saya minta doa mereka untuk membuka usaha kopi,” katanya.
Walau awalnya Tama masih mendapati beberapa kendala, namun akhirnya semua itu bisa ia lewati.
Dari pengalaman usaha-usahanya yang gagal baik saat masih menjadi karyawan hingga setelah resign, Tama mengaku mulai membangun bisnis dari modal nol. Tak ingin lagi menggunakan pinjaman modal bank.
Kedai Kosim miliknya pun ia dirikan pertama kali di Kauman Tulungagung dengan modal secarik kertas perencanaan bisnis (business plan) dan mendapat bantuan modal usaha sebesar 28 juta.
Tama membuat perencanaan bisnis yang matang melalui akad syariah dengan cara bagi hasil.
“Dan Alhamdulillah saya berhasil mengembangkan Kedai Kosim hingga saat ini,” tuturnya.
Kedai Kosim resmi ia dirikan tepat pada Hari Jumat di bulan puasa Ramadan (Juli) Tahun 2016.
Total modal awal pendirian kedainya sebesar Rp 28 juta yang bersumber dari bantuan modal dari keluarga dan teman-teman dekatnya.







