Bungkus makanan, gelas plastik, dan botol minuman ditinggalkan begitu saja di atas rumput yang tumbuh subur. Seolah para pembuangnya tak merasa bersalah, padahal yang dirusak bukan sekadar keindahan, tetapi juga upaya bersama menjaga ruang publik yang nyaman.
Pemandangan ini memantik rasa kecewa sejumlah pihak, terutama para pengunjung yang rutin berolahraga di kawasan tersebut. Mereka menilai tindakan ini bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga mencerminkan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap ruang bersama.
“Saya sangat menyayangkan ada pengunjung yang sengaja menyimpan tempat makanan dan minumannya di sini. Padahal tempat sampah sudah tersedia, tinggal kemauan saja,” kata Mustofa, salah seorang pengunjung, saat ditemui di lokasi, Senin (18/8/2025) pagi.
Ironisnya, belum lama ini Wakil Bupati Gowa, Darmawangsyah Muin, bahkan turun langsung ke area ini untuk membagikan tempat sampah. Aksi tersebut merupakan bagian dari program Annangkasi (Gowa Bersih), sebuah gerakan yang mendorong masyarakat agar peduli terhadap kebersihan lingkungan.
“Saya berharap tempat ini dijaga bersama. Pemerintah sudah siapkan fasilitas, tinggal kesadaran kita semua untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kalau masih ada yang lalai, berarti belum ada rasa memiliki,” tegas Darmawangsyah saat ditemui usai kegiatan beberapa waktu lalu.
Seruan itu bukan hanya sekali. Dalam berbagai kesempatan, Darmawangsyah menegaskan bahwa kebersihan bukan pekerjaan musiman, melainkan kebiasaan yang harus tumbuh dari kesadaran bersama. “Gowa Bersih bukan hanya slogan, tetapi aksi nyata. Kebersihan harus menjadi kebiasaan, bukan kegiatan musiman,” ujarnya dalam Safari Ramadan di Desa Barembeng, Maret lalu.
Bahkan ia mengingatkan masyarakat agar tidak ragu bertindak aktif ketika melihat sampah. “Lihat sampah, langsung ambil dan masukkan ke tempat sampah. Bukankah kalau Gowa bersih kita semua nyaman untuk tinggal dan beraktivitas di Gowa?” katanya tegas saat memantau kebersihan di depan Kantor ATR/BPN Gowa.
Lebih jauh, di hadapan masyarakat Bontonompo, ia juga menautkan nilai agama dengan kebersihan. “Jika kebersihan adalah sebagian dari iman, maka hidup sehat adalah bentuk rasa syukur. Kita ingin masyarakat Gowa tidak hanya cerdas dan berakhlak, tapi juga sehat secara jasmani dan rohani,” ucapnya.
Namun semua itu akan percuma jika masih ada pengunjung yang menganggap remeh persoalan sampah. Jika kebiasaan buruk ini dibiarkan, bukan sekadar keindahan yang hilang, tetapi juga kualitas lingkungan, kesehatan, dan kenyamanan bersama yang ikut tergerus.
Kawasan ini dibangun dengan dana publik, untuk dinikmati bersama. Tetapi sebagian pengunjung memperlakukannya tanpa rasa tanggung jawab. Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan semata soal fasilitas atau program pemerintah, melainkan soal mentalitas: kesadaran bahwa kebersihan adalah modal dasar untuk mewujudkan Gowa yang bersih, nyaman, dan berbudaya.(*)







