SOLUSINEWS.ID – Sejak memasuki bulan Mei 2022 hingga Tanggal 9 Mei, mata uang rupiah dilaporkan makin melemah.
Dikutip JPNN, nilai tukar rupiah kian melemah dengan ditutup di angka 92 poin. Sebelumnya sudah turun pada 95 poin atau senilai Rp 14.572.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menilai melemahnya rupiah per 9 April 2022 disebabkan faktor eksternal.
Yaitu dampak menguatnya dolar terhadap semua mata uang utama karena penguncian Covid-19 di China, percepatan inflasi, dan memburuknya prospek pertumbuhan ekonomi global akibat perang di Ukraina.
Menurut Ibrahim, fokus ekonomi utama AS berikutnya ialah data inflasi harga konsumen pada hari Rabu (11/5/2022).
Faktor internal, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia pada Kuartal Pertama 2022 tumbuh 5,01 persen secara year on year (yoy).
Pertumbuhan itu ditopang pulihnya sejumlah aktivitas ekonomi pascapandemi Covid-19.
Selain itu karena ada low base effect pada triwulan pertama 2021 yang diketahui ekonomi Indonesia terkontraksi 0,7 persen.
Meskipun demikian, perekonomian tanah air secara kuartal menurun bila dibandingkan dengan kuartal keempat 2021.
Berdasarkan komponen pengeluaran distribusi, PDB Triwulan pertama 2022 berasal dari konsumsi rumah tangga dan investasi.
Pergerakan mobilitas penduduk pada triwulan pertama 2022 sudah sangat baik.
Selasa (10/5/2022), mata uang Rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif. Namun, ditutup melemah pada rentang Rp 14.450 – Rp 14.600.(*)







