SOLUSINEWS, – Pemberitaan tentang resesi marak beredar di sejumlah media massa maupun sosial dalam 2 bulan terakhir (September-Oktober) 2022.
Efeknya malah membuat keresahan di kalangan masyarakat. Untungnya tidak sampai menimbulkan keonaran di masyarakat.
Terkait isu resesi yang puncaknya bakal terjadi di Tahun 2023, anggota Komisi XI DPR Kamrussamad pun sempat angkat bicara.
Anggota Fraksi Partai Gerindra itu bahkan mengkritisi pemerintah agar jangan menciptakan ketakutan tentang resesi ekonomi.
“Jadi, waspada boleh, tetapi tidak perlu diliputi ketakutan,” kata Kamrussamad, Kamis (13/10/2022), dikutip dari jppn.
Politisi asal Sulsel itu menegaskan bahwa wacana resesi tersebut perlu disikapi secara proporsional.
“Tidak perlu terlalu insecure dan diliputi ketakutan yang berlebihan,” ungkapnya.
Hal senada diungkapkan konten kreator pengelolaan keuangan keluarga, Ko Cece, di akun instagramnya @kokokeuangan.
Dalam salah satu postingannya ia menyampaikan bahwa benar atau tidaknya terjadi resesi di tahun 2023, tidak ada yang bisa memastikan.
Namun ia menyarankan agar setiap orang khususnya masyarakat RI sebaiknya tetap melakukan persiapan.
“Kalau keuanganmu sehat, ya aman-aman saja. Ga ada salahnya melakukan persiapan” sebutnya.
Ko Cece juga mengatakan, “ndak usah pusing sama berita, kerja aja semaksimal mungkin dan keuangan akan baik-baik saja”.
Resesi dan Riwayatnya
Resesi adalah kondisi minusnya pertumbuhan ekonomi suatu negara selama 2 quartal atau 6 bulan berturut-turut.
KO Cece juga menerangkan bahwa Indonesia sebenarnya sudah mengalami resesi pada tahun 2020, tapi beritanya tak seheboh sekarang.
Ini diperkuat dengan data BPS pada yang melaporkan bahwa peduk domestik bruto (PDB) RI pada kuartal III tahun 2020 malah minus 3,49 persen year on year (yoy).
Itu atinya Indonesia resmi masuk jurang resesi pada Tahun 2020 juga.
Apalagi laporan sebelumnya menyebutkan bahwa kuartal II tahun 2020, ekonomi Indonesia dinyatakan negatif.
Maret 2020, Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) malah terjun bebas dari 6500 ke 4200.
Namun sepanjang April-Desember 2020 sudah kembali ke 6500, bahkan lebih tinggi.







