Kehidupan keluarga Nuraini memang dalam keterbatasan, karena itu ia dan empat saudaranya rela membantu kedua orangtua bekerja sebagai kuli angkut semen.
Untuk setiap zak semen yang dipikul dipundaknya, dari truk ke gudang atau tempat penampungan, Nuraini mendapat upah Rp 600.
Bekerja sebagai kuli angkut atau pemanggul semen ternyata sudah dijalani sejak dirinya masih kelas 3 SMP.
Meski memiliki keterbatasan ekonomi, kedua orangtua Nuraini pantang melihat anak-anaknya tak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Adik laki-laki Nuraini pun tetap lanjut kuliah dan tercatat sebagai mahasiswa semester II di salah satu kampus di Pinrang.
Sementara dua adik perempuannya, ada bersekolah di SMA dan si bungsu di bangku SMP.(*)







