Perantau Muallaf yang Mengubah Hidup Anak-Anak di Makassar melalui Panti Asuhan

DIJA (48), seorang perantau muallaf yang berasal dari Timor Timur membuat panti asuhan Al-Muslimun Timor Indonesia yang ia bangun dari nol selama 8 tahun terakhir.

Panti asuhan yang berlokasi di Jln KH Abdul Jabbar Ashiri ini lahir dari niat Dija yang memeluk agama Islam pada tahun 1993 setelah merantau dari Timor Timur.

Dija merupakan seorang piatu yang diitinggalkan oleh ibunya sejak kelas 4 SD yang diamana ia masih berusia 10 tahun pada saat itu.

Kisah Dija ini penuh akan perjuangan, yang bermula pada saat Dija merasakan keresahan dengan tingkah laku Ayahnya yang merupakan seorang pemabuk, sehingga ayah dari Dija tidak sepenuhnya memberikan fasilitas dan biaya untuk pendidikannya.

Bacaan Lainnya

Hingga pada akhirnya Dija rela merantau ke Makassar demi pendidikannya. Dengan bermodalkan uang saku Rp. 5000,  Dija tetap merantau ke Makassar dengan menggunakan Kapal tanpa bekal apapun.

Meski tanpa pesetujuan dari ayahnya , ia tetap nekat untuk merantau ke Kota Makassar demi pendidikannya dan bersekolah di Makassar. “Dengan modal yang sedikit tidak menjadi alasan untuk saya putus asa dalam mengejar pendidikan saya demi masa depan hidup saya” Ucap Dija ssaat diwawancara

Pada saat di Makassar, Dija menetap di sebuah Panti Asuhan An-Nashar Timor Timur. Pada saat itu juga Dija resmi memeluk agama Islam.

Selama menetap di Panti Asuhan, dija tetap melanjutkan sekolahnya di Sekolah Dasar dibawah naungan Panti Asuhan yang ia tempati. Setelah menyelesaikan pendidikannya di SD, ia melanjutkan perjuangannya dengan bersekolah di Pondok Pesantren Yadi.

Dija merupakan anak yang aktif, tegas akan pendidikan dan ambisius dalam meperdalam ilmu agamanya. Dija juga dikenal sebagai anak yang kuat dan ceria tanpa menampakkan kesedihannya tentang kisah perjalanan hidupnya.

Hari-harinya yang dipenuhi dengan tangis diam. “Saya sering menangis ketika sedang sendirian di Panti, karena mengingat Ibu saya yang sudah Tiada.” Ungkap Dija dengan suara bergetar

Banyaknya suka duka yang di alami oleh Dija selama hidupnya di perantauan, tidak menjadikannya sebuah penghambat untuk ia terus melanjutkan mimpinya demi pendidikannya. Dija melanjutkan SMA nya di Pondok Pesantren Putri Darul Istiqomah Maccopa.

Hidup di perantauan tanpa dukungan dari orang tua sangat menyedihkan, Dija seorang Piatu yang mengsurvive dirinya sendiri di tanah rantauan, tidak pernah mengeluh dan menyerah akan keadaan yang menimpanya. Justru dengan keterbatasan kondisi tersebut terus membuat Dija semangat meraih mimpinya.

Pernikahannya dengan Anwar yang juga merupakan seorang Muallaf, pada tahun 1999 menjadi babak baru bagi kehidupan Dija. Pernikahan Dija berlangsung di Panti Asuhan An-Nashar Timor Timur tanpa kehadiran Ayahnya.

Pada tahun 2017,Dija dan suaminya menampung 2 seorang muallaf laki-laki yang berasal dari Kupang. Lambat laun, anak yang Dija tampung makin bertambah yang berasal dari berbagai macam daerah dan dari situlah mulai terbesit di pikiran Dija untuk membangun sebuah panti asuhan sederhana. Dengan itu Dija mulai mengurus berkas-berkas dan pembangunannya panti Asuhannya.

Dengan modal tabungan dan donasi dari donatur yang ada di Bandung yang bernama Hj Hasan dan saudarinya Ulfa, Dija dan suami berhasil membeli sebuah rumah atau asrama baru yang terletak di Jalan KH Abdul jabbar Ashiri.

Kini tahun 2025, Panti Asuhan yang dibangun oleh Dija dan suami telah menampung 58 Anak Yatim, Dhuafa dan Muallaf usia 6-19 Tahun. Mereka tidak hanya diberi tempat tinggal, tetapi juga pendidikan mengenai Akidah Akhak dan Fiqih untuk memperdalam Ilmu Agama.

Seiring berjalannya waktu, beberapa anak asuhannya berhasil masuk perguruan tinggi swasta dan tidak sedikit juga anak asuhannya sudah ada yang kembali pulang ke kampung halamannya, seperti mamuju, Topoyo dan sekitarnya.

“Saya ingin mereka tidak merasakan apa yang saya rasakan dulu, Anak yatim ataupun Piatu bukan berarti tak punya masa depan, mereka juga berhak meraih mimpi mereka” Ungkap Dija

Kisah dari Dija ini menjadi inspirasi bagi banyak perantau di  Kota makassar. Dari anak piatu yang hampir putus asa dengan keadaan, ia berhasil membuktikan bahwa luka masa kecil bisa disembuhkan dengan memberi harapan kepada anak-anak lain.

Di sudut kota Makassar yang bising, tersembunyi sebuah rumah sederhana di Jalan KH Abdul Jabbar Ashiri yang menyimpan keajaiban bernama Panti Asuhan Al-Muslimun Timor Indonesia.

Di sini, 58 pasang mata kecil kini tertawa lepas, belajar mengaji, dan bermimpi setinggi langit semua karena seorang perempuan bernama Dija yang pernah merasakan betapa pahitnya menjadi anak tanpa pelukan ibu dan tanpa restu ayah.

Delapan tahun lalu, tempat ini masih tanah kosong; hari ini, ia adalah rumah bagi anak-anak yang dulu sama sepertinya: yatim, dhuafa, dan muallaf yang nyaris menyerah pada nasib.

Dija tidak lagi menangis sendirian di malam hari. Tangisnya dulu, yang tertahan di antara dinding panti asuhan An-Nashar, kini berubah menjadi doa-doa yang dipanjatkan bersama anak-anak asuhnya setiap ba’da Maghrib.

Ia yang pernah merantau dengan hanya Rp5.000 di kantong, kini membuktikan bahwa luka paling dalam bisa disembuhkan bukan dengan melupakannya, melainkan dengan mengulurkan tangan kepada mereka yang sedang berada di jurang yang sama seperti dirinya dahulu.

Setiap kali ada anak asuhnya yang berhasil masuk perguruan tinggi atau pulang kampung dengan membawa bekal ilmu dan iman, Dija hanya tersenyum karena ia tahu, satu per satu, ia sedang menyembuhkan “dirinya yang dulu”.

Kisah Dija adalah pengingat keras bahwa kehidupan tak pernah benar-benar adil, tetapi kita bisa memilih untuk menjadi keadilan bagi orang lain.

Dari seorang gadis kecil yang ditinggal ibunya di kelas 4 SD, ia tumbuh menjadi ibu bagi puluhan anak yang tak berdarah daging dengannya.

Di pelukannya yang hangat, masa depan yang dulu tampak gelap bagi seorang Dija kini menjadi terang benderang bagi 58 anak yang memanggilnya “Bunda”. Dan di situlah letak mukjizat sejati: ketika seseorang yang pernah hancur memilih untuk menjadi tempat berlabuh bagi hati-hati lain yang sedang karam maka ia tak lagi menjadi korban masa lalu, melainkan penyelamat masa depan.

Oleh: Muhammad Anugrah Sadat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *