MyParkir, Inovasi Baru yang Berpotensi Jadi Pelopor Sistem Parkir Berbasis Scan di Indonesia

ilustrasi; juru parkir

Oleh : Rudihartono, S.TP., S.H., M.Si. ( Praktisi IT)

Masalah parkir di Indonesia itu sebenarnya klasik. Kita semua pernah mengalami—bayar parkir tapi tidak jelas masuk ke mana, atau bahkan tidak diberi bukti sama sekali. Di banyak tempat, sistemnya masih manual dan sangat bergantung pada kejujuran petugas.

Di tengah kondisi itu, muncul sebuah pendekatan baru lewat platform MyParkir yang menurut saya cukup menarik dan berbeda dari yang sudah ada selama ini.

Rudihartono, Praktisi IT

Dikembangkan oleh PT Solusi Inti Media, MyParkir tidak hanya sekadar membawa QR sebagai alat pembayaran, tetapi mencoba mengubah cara kerja parkir itu sendiri.

Bacaan Lainnya

Bukan Sekadar Bayar, Tapi Validasi

Selama ini kita mengenal QRIS sebagai alat bayar. Tinggal scan, bayar, selesai.

Tapi di MyParkir, konsepnya agak berbeda.

Di sini, scan bukan cuma untuk bayar, tapi jadi syarat sah transaksi parkir. Bahkan ada istilah yang mereka dorong:

“No Scan, No Bayar”

Artinya sederhana: kalau tidak ada proses scan, maka transaksi parkir dianggap tidak terjadi secara sistem.

Buat saya, ini menarik. Karena selama ini yang jadi masalah bukan cuma cara bayar, tapi bagaimana memastikan transaksi itu benar-benar tercatat.

Menjawab Masalah Lama dengan Cara Baru

Kalau dipikir-pikir, banyak persoalan parkir itu sebenarnya ada di sini:

Tidak ada bukti transaksi

Setoran tidak transparan

Potensi kebocoran besar

Dengan sistem berbasis scan seperti ini, semua transaksi bisa terekam. Jadi bukan lagi sekadar “percaya”, tapi memang ada datanya.

Apalagi MyParkir juga tidak menggunakan konsep saldo uang, tapi kuota parkir. Jadi pengguna membeli hak parkir, bukan menyimpan uang di sistem.

Apakah Ini yang Pertama?

Kalau bicara QR, jelas bukan hal baru. Banyak tempat sudah pakai QR untuk parkir.

Tapi kalau bicara sistem yang menjadikan scan sebagai inti validasi transaksi parkir, khususnya di parkir tepi jalan, saya pribadi belum banyak melihat implementasi seperti ini di Indonesia.

Di titik ini, menurut saya, MyParkir punya peluang besar untuk disebut sebagai:

pelopor sistem parkir berbasis scan sebagai alat validasi transaksi di Indonesia

Tentunya, kalau implementasinya bisa berjalan luas dan konsisten.

Potensi Besar untuk Daerah

Yang menarik, sistem seperti ini bukan cuma soal teknologi, tapi juga berdampak ke daerah.

Kalau benar semua transaksi tercatat :

– Pendapatan daerah bisa lebih jelas

– Kebocoran bisa ditekan

– Parkir liar bisa dikurangi

Dan ini bukan hal kecil. Parkir itu sektor yang selama ini sering dianggap sepele, padahal potensinya besar.

Penutup

Kita sudah lama bicara digitalisasi, tapi sering kali hanya berhenti di “cashless”. MyParkir mencoba melangkah lebih jauh—bukan hanya mengubah cara bayar, tapi juga cara sistem bekerja.

Apakah ini akan berhasil ? Tentu masih butuh waktu dan implementasi di lapangan.

Tapi satu hal yang jelas, pendekatan seperti ini patut diperhatikan. Karena bisa jadi, inilah awal dari perubahan sistem parkir di Indonesia.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *