Opini: Arif Fuddin Usman
PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) Tahun 2024 sudah di depan mata. Tanggal 27 November 2024, masyarakat di Indonesia akan memilih pemimpin terbaiknya. Pilkada serentak 2024 akan dilangsungkan di 37 provinsi, 415 kabupaten, dan 93 kota.
Satu dari 415 kabupaten yang melangsungkan hingar bingar pemilihan kepala daerah adalah Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur. Dua pasangan calon (Paslon) bakal bertarung memperebutkan suara masyarakat Kabupaten Madiun. Mereka adalah pasangan nomor urut 1 Ahmad Dawami Ragil Saputro (Kaji Mbing) dan Sandhika Ratna Ferryantiko, sedangkan pasangan nomor urut 2 Hari Wuryanto dan dr. Purnomo Hadi.
Tak kenal maka tak sayang, tidak kenal maka tidak akan memberikan pilihan dan menaruhkan harapan. Dari kedua paslon, salah seorang yang menyita perhatian penulis adalah hadirnya seorang dokter dalam kontestasi pilbup-pilwabup, dokter Pur –sapaan dari Purnomo Hadi. Siapakah sebenarnya dokter Purnomo? Apa latar belakangnya? Pendidikannya hingga masa lalunya?
Dalam memilih seorang pemimpin, jangan bergantung akan popularitas dan pencitraan (Irman Gusman, 2014). Sebaliknya, pilihlah pemimpin yang memiliki visi yang jelas dan sejarah yang jelas. Pemimpin harus clean, aspirative, dan able to solve problems.
Pemimpin juga tidak dilihat dari apa yang dia janjikan, tapi yang dia telah perbuat. Artinya track record alias rekam jejak menjadi sangat penting. Rekam jejak adalah rentetan perbuatan apa yang telah ditorehkan di masa lalu.
Nah, penulis pernah semasa dan sezaman dengan dokter Pur, pemegang gelar profesi dokter (dr) dan sarjana kedokteran (SKed) dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar tersebut. Menyebut Kedokteran Unhas, fakultas ini menempati peringkat kelima terbaik di Indonesia versi QS WUR by Subject 2024.
Kembali ke cerita, tulisan ini tak akan menceritakan tentang bagaimana dokter Pur membangun, ‘merawat’, dan ‘membesarkan’ Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dolopo yang dikenal warga lokal dengan sebutan RS Bathil. Pun kisah dokter Pur saat menjadi direktur RSUD Dolopo dengan segepok penghargaan yang diraihnya. Tulisan ini
Bicara masa lalu dokter Pur, ingatan penulis melayang ke era tahun reformasi 1998 hingga awal tahun 2000-an. Masa itu, pria kelahiran Madiun, 7 September 1975 ini masih berstatus mahasiswa FK Unhas.
Lelaki tamatan SMA Negeri 1 Geger (Uteran) ini getol-getolnya dalam aktivitas kemahasiswaan. Aktif sebagai pengurus Senat Mahasiswa FK Unhas hingga bergiat di Tim Bantuan Medis (TBM) Calcaneus FK Unhas. Di unit organisasi kegawatdaruratan inilah dokter Pur menemukan ghirah dalam aksi kemanusiaan.
Oh iya, TBM Calcaneus FK Unhas merupakan unit kegiatan mahasiswa (UKM) di lingkungan Senat Mahasiswa FK Unhas. Organisasi ini merupakan representasi mahasiswa pecinta alam (Mapala) yang mewujud dalam bidang kesehatan. TBM diresmikan 10 Oktober 1992 oleh Dekan FK Unhas pada masa itu Prof. Dr. dr. Junus Alkatiri SpJP dengan ketua pertama yaitu Rohmat Yasin.
Masa 1998 hingga awal 2000-an, dokter Pur tak pernah ketinggalan dalam aksi TBM Calcaneus turun memberikan pelayanan kesehatan ke masyarakat. Mulai dari aksi bakti sosial sirkum sisi (sunatan massal), pengobatan gratis, hingga membantu warga terdampak bencana alam. Banjir bandang, tanah longsor, adalah medan laga untuknya turun bersama tim TBM FK Unhas. Demi kemanusiaan, ia tak pernah mengingsutkan diri.
Kebiasaan ‘berperang’ dalam medan kemanusiaan itu, diungkapkan dokter Pur, terinspirasi dari sosok panutannya yakni Prof Dr dr Idrus Andi Paturusi SpB SpOT. Prof Idrus adalah seorang dokter ahli bedah tulang Indonesia yang juga merupakan Guru Besar ilmu kedokteran dan Rektor Universitas Hasanuddin ke–11. Sebelumnya dokter Idrus menjabat sebagai dekan FK Unhas –masa saat dokter Pur masih bergeliat sebagai mahasiswa.
Kiprah Prof Idrus yang juga kerap turun dalam aksi kemanusiaan di medan bencana, membuatnya akrab dengan sebutan Dokter di Medan Lara (buku autobiografi, 2021). Aksi-aksi dokter Idrus itulah yang terus menginspirasi dokter Pur untuk bekerja demi kemanusiaan.
“Prof Idrus adalah sosok inspirasi saya. Tak banyak seorang professor turun memberikan bantuan di medan bencana, melakukan operasi darurat dan lainnya. Kita ini sebagai dokter, wajib hadir di saat masyarakat membutuhkan kita,” ujarnya.
Merawat Pasien Covid







