Purnomo Hadi, Kemanusiaan dan Dokter di Medan Lara

Penulis (kiri) bersama dokter Purnomo Hadi calon wakil Bupati Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Kata-kata itu dibuktikan dokter Pur. Bukan hanya isapan jempol semata. Contohnya, saat pandemi Covid-19 menghantam Indonesia awal tahun 2020. Banyak tenaga medis ikut menjadi korban.

Media massa mengabarkan puluhan dokter, perawat, dan paramedis turut tumbang sebagai korban Corona virus. Kejadian itu membuat sejumlah pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) hingga rumah sakit, memilih menepi. Mereka berpikir dua-tiga kali untuk mengambil risiko buat merawat pasien Covid.

Nah, melihat kondisi itu, dokter Pur mengaku miris. Hati kecilnya yang terbiasa berjuang untuk kemanusiaan, bergolak. Ia pun dengan lantang meminta pasien-pasien Covid yang ditolak pusat kesehatan, dibawa ke RSUD Dolopo untuk dirawat.

“Bagaimana kita tega membiarkan pasien covid itu berjuang sendiri. Kita ini tenaga medis yang harus tampil di depan untuk menyelamatkan nyawa. Risiko sudah menjadi bagian dari tugas dokter dan paramedis. Kalau kita dokter tak mau menerima mereka (Pasien Covid), lalu siapa yang akan merawat mereka?” kisahnya di tahun 2021.

Bacaan Lainnya

Peran itulah yang kemudian diambil dokter Pur. Bersama dengan semua tenaga kesehatan (nakes), mereka bahu-membahu mengatasi masa krisis di era Covid-19. Perjuangan mereka berbuah penghargaan. RSUD Dolopo diganjar penghargaan sebagai Rumah Sakit Tipe C rujukan terbaik Covid-19 se Provinsi Jawa Timur. Penghargaan diberikan langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa atas dedikasi dokter Pur bersama nakes RSUD Dolopo.

Berkat pencapaian di masa Covid itu, RSUD Dolopo mengeliat. Sejak 71 tahun lalu dibangun, pusat kesehatan ini kurang mendapat perhatian. Kini RSUD Dolopo jadi sangat representatif sebagai rumah sakit klasifikasi tipe C. alat-alat Kesehatan cukup lengkap dan pada 4 Mei 2024 lalu dilakukan peresmian penggunaan bangunan gedung baru.

Dan, setelah lama tak mendengar kabarnya, kini dokter Pur sudah menjadi calon wakil bupati. Ia melepas karier 17 tahun sebagai pegawai negeri sipil (PNS), melepas jenjang karier struktural di bidang kesehatan. Saya mengenal perjalanannya saat mahasiswa, tentu saja dokter Pur bisa. Dengan tagline Bersih Sehat Sejahtera, Madiun yang maju, Madiun yang sejahtera, Madiun yang berkeadilan untuk semuanya, tampak bukan omong kosong belaka.

Dokter Pur punya rekam jejak untuk mendampingi Pak Hari Wuyanto dengan jargon Harmonis-nya itu. Ia punya integritas. Dokter Pur punya keteladanan dan wibawa dalam memimpin. Dia juga pengagum Sun Tzu, filsuf Tiongkok. Ia memegang falsafah, “Pemimpin, memimpin dengan teladan bukan dengan kekerasan”.

Semoga Kabupaten Madiun mendapatkan sosok pemimpin yang dinanti, sosok pemimpin yang menginspirasi. Komentarnya, Pilkada serentak 2024 ini bukan tentang kemenangan satu atau dua orang saja tapi bagi masyarakat, kemenangan bersama masyarakat Kabupaten Madiun. Kembang Kencur Gula Manis, kalau pengin Madiun Makmur Ayo ikut harmonis. (*)

*) Arif Fuddin Usman, pernah 18 tahun menjadi jurnalis Tribun, Kompas Gramedia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *