Senang Fasilitas Rumah Singgah Lengkap, Warga Angkona: “Ingin Cepat Pulang tapi Belum Ada Kepastian”

Matriel Sanco'o (66), duduk di pelataran dekat Rumah Singgah Pasien Rujukan Luwu Timur di Jl Linkar Barat, Tamalanrea, Kota Makassar, Minggu (24/5/2026).(redo/sn)

MAKASSAR, SOLUSINEWS.ID – Menempati rumah hunian berupa ruangan berukuran 12 meter persegi atau sekitar 3×4 meter dengan fasilitas memadai telah memberi kenyamanan bagi Matriel Sanco’o dan keluarganya di Rumah Singgah Pasien Rujukan Luwu Timur yang disiapkan Pemkab Luwu Timur di Kota Makassar.

Pria berusia 66 tahun itu telah sebulan lebih menempati rumah singgah tersebut dengan gratis yang memang disiapkan oleh Pemkab Luwu Timur untuk membantu dan meringankan beban warga asal Luwu Timur yang dirujuk ke Makassar.

Awal April 2026, ia bersama seorang anaknya, Josua, mendampingi anak keduanya, Noval, menjalani penanganan medis di RSU Unhas.

Anaknya, Noval, dirujuk dari RSUD I Lagaligo Wotu untuk menjalani operasi di bagian kepala.

Bacaan Lainnya

“Selama disini, saya tinggal di rumah singgah dengan fasilitas lengkap. Ada tempat tidur, kamar mandi, alat memasak, dan semuanya gratis. Kami sangat bersyukur atas bantuan ini,” ujar Matriel saat dijumpai di pelataran apartemen Bandaraya Tamalanrea, Minggu (24/5/2926).

Ia menempati salah satu dari tiga ruangan hunian yang disiapkan Pemkab Luwu Timur sebagai rumah singgah pasien asal Luwu Timur di apartemen Bandaraya, Jl Lingkar Barat, Tamalanrea, Makassar.

Matriel juga berterimakasih banyak kepada Bupati dan pihak RSUD yang telah membantu proses rujukan anaknya di Makassar dan bisa diberi tempat tinggal gratis di rumah singgah terebut.

Kini, hampir dua bulan sudah ia setia menemani anaknya yang telah dioperasi di RS Unhas sambil menanti jadwal operasi lanjutan.

Di rentang waktu itu, ada beban yang juga dirasakan bercampur dengan keinginan kembali pulang ke kampungnya di Desa Tampina, Kecamatan Angkona.

Di masa penantian kelanjutan pemeriksaan dan jadwal operasi kedua anaknya yang belum pasti, Matriel memikirkan rumahnya yang kosong dan serta bengkelnya yang menjadi sumber mata pencaharian keluarganya.

“Kita ingin cepat pulang. Cuma belum ada kepastian. Rumah di Angkona juga kosong tak ada yang tinggali. Disini enak, cuma terlalu lama juga biaya makin menipis,” terangnya.

Ia mengaku biaya hidup bersama kedua anaknya mulai menjadi beban, namun ia tak bisa bisa berbuat banyak selain bertahan dan bersabar menemani masa perawatan anaknya.

Ia menyebut biaya hidup sehari bersama kedua anaknya bisa menelan biaya sekitar Rp 100 ribu.

“Noval (anaknya) masih menungu operasi kedua. Belum ditahu kapan waktunya. Kami hanya bisa menunggu kejelasan saja dari rumah sakit,” ujarnya.

Sekadar diketahui, Pemkab Luwu Timur telah menyediakan fasilitas Rumah Singgah Pasien Rujukan Lutim di Makassar per 1 April 2026. Saat ini tersedia 3 kamar hunian dengan fasilitas lengkap dan ber-AC.

Untuk durasi waktu tinggal pasien dan keluarga yang menjaganya, tidak ada batasan waktu. Selama pasien masih dirawat maka dibolehkan tetap tinggal di rumah singgah tersebut.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *