MAKASSAR, SOLUSINEWS.ID – Keberadaan fasilitas Rumah Singgah Pasien bagi warga Luwu Timur di Kota Makassar sangat membantu meringankan beban sejumlah pasien dan keluarganya selama menjalani penanganan medis di Makassar.
Fasilitas pelayanan bidang kesehatan yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur sejak April 2026 ini telah dimanfaatkan oleh warga Luwu Timur, khususnya dari kalangan kurang mampu.
Hal ini dirasakan salah satu warga Desa Lestari, Kecamatan Tomoni, Budiono (33), yang saat ini harus mendampingi anaknya yang berusia 6 tahun menjalani rawat jalan di RSUP Wahidin Sudirohusodu Makassar.
Budiono bersama istri mengaku sangat terbantu dengan adanya fasilitas rumah singgah gratis dari Pemkab Luwu Timur yang terletak di Jl Lingkar Barat, Tamalanrea, Kota Makassar, tersebut.
Ia dan istrinya tak lagi terbebani tempat tinggal sementara dan biaya hunian selama berada di Makassar untuk menemani dan mengurus keperluan medis dan operasi putranya yang menderita tumor di bagian kepala.
“Alhamdulillah pak, saya berterimakasih disini telah dikasi fasilitas rumah singgah yang nyaman dan aman. Saya berterimakasih atas semua bantuan yang telah diberikan oleh Pak Bupati dan Wakil Bupati,” ungkap Budiono saat dijumpai di salah satu ruangan hunian gedung Apartemen Bandaraya di kawasan perumahan modern Tallasa City di Tamalanrea, Minggu (24/5/2026).
Budiono mengaku telah menempati fasilitas rumah singgah tersebut sejak 17 April lalu. Putra pertamanya yang baru mengenyam pendidikan PAUD itu telah menjalani operasi tumor di bagian kepala dan sementara menjalani masa penyembuhan.
Selanjutnya, hasil penanganan dokter, anaknya masih harus menjalani operasi kedua untuk penanganan benjolan lain yang terdapat di bagian leher.
Selama sebulan lebih, ia bersama istrinya telah menghuni rumah singgah pasien asal Lutim tersebut sambil menunggu penanganan lanjutan dari pihak rumah sakit.
Di sisi akomodasi, ia sangat berryukur dan berterimakasih dapat memanfaatkan fasilitas rumah singgah pasien yang diberikan Pemkab Lutim.
Namun, disisi lain, ada beban hidup yang juga ikut ia dirasakan seiring berlalunya hari-demi hari hingga sebulan lebih di Makassar.
Beban itu adalah biaya kebutuhan untuk bertahan hidup dan memberi makan istri dan anaknya sehari-hari. “Semakin lama disini juga makin terasa beban sehari-hari. Apalagi jauh dari kampung dan tidak bisa kerja lagi,” ungkapnya.
Budiono yang seorang buruh lepas terpaksa harus super irit mengeluarkan biaya dan mengandalkan bantuan dari sanak keluarganya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari selama di Makassar.
Ia mengaku, sejak meninggalkan tempat tinggalnya di Desa Lestari dan tinggal di Makassar untuk menemani perawatan anaknya, sumber penghasilannya pun makin sulit karena tak bisa bekerja seperti biasa.
Selama ini ia menghidupi kebutuhan keluarganya dengan bekerja serabutan sebagai buruh kebun. Selain itu, kadang ia juga menjadi kuli bangunan.
“Harapan kami pak, agar anak kami bisa cepat sembuh dan ada kejelasan penanganan medis berikutnya. Seperti perban di kepala anak saya ini kapan bisa diperiksa atau diganti,” tuturnya.
Sekadar diketahui, Pemkab Luwu Timur telah menyediakan fasilitas Rumah Singgah Pasien Rujukan Lutim di Makassar per 1 April 2026. Saat ini tersedia 3 kamar hunian dengan fasilitas lengkap dan ber-AC.
Untuk durasi waktu tinggal pasien dan keluarga yang menjaganya, tidak ada batasan waktu. Selama pasien masih dirawat maka dibolehkan tetap tinggal di rumah singgah tersebut.(red/*)







