Awal Usaha Nasi Kuning
Sebelumnya, Eko adalah karyawan di restoran waralaba internasional yaitu Dunkin Donuts. Di tempat itu, Eko bahkan sempat bekerja selama 10 tahun.
Waktu yang cukup lama dan pengalaman bekerja di Dunkin Donuts, malah menimbulkan keinginannya untuk untuk ‘hijrah’ dan membuka usaha sendiri.
“Sebenarnya ingin mandiri saja. Kedua, ingin merubah sesuatu yang dulu kesannya bekerja diatur waktu, sekarang kita sendiri yang mengatur waktu kita,” terang Eko.
Pada tahun 2019, mulailah Eko merintis usaha nasi kuning berbekal mobil Kijang kapsul tahun 2000-an miliknya dengan modal awal sekitar Rp 500 ribu.
Awalnya, ia hanya berjualan di rumahnya kemudian berpindah ke Jl Andi Mappanyukki yang dirasakan memiliki segmen pasar lebih luas.

Apalagi di tempat itu juga bersanding dengan kios jajanan kue milik keluarganya yang berada di jalan poros yang memiliki banyak traffic atau lalu lintas orang.
Seiring waktu, usaha nasi kuning Om Eko mampu bertahan dan eksis melalui pandemi hingga saat ini.
Kini, usaha warung mobil nasi kuning Om Eko bisa menghasilkan omzet hingga 50 porsi/bungkus dalam sehari.
Olehnya, sebagian dari penghasilan dari usaha nasi kuning tersebut, rencananya disiapkan Eko untuk membuka usaha kuliner lain.
Asumsi Omzet
Bila diasumsikan dengan rata-rata 50 porsi atau bungkus nasi kuning bisa laku terjual dalam sehari maka omzet yang bisa diraup dari bisnis kuliner Om Eko ini sekitar 750 ribu.
Bila disimulasikan dalam sebulan selama 26 hari saja, maka usaha jualan nasi kuning di tepi jalan saja bisa menghasilkan omzet hingga belasan juta.
Tentunya omzet tersebut belum sepenuhnya bisa disebut sebagai keuntungan atau profit karena pelaku usaha juga menghitung dan mengeluarkan biaya operasional dan biaya bahan lainnya.







