DAENG Taba mengaku ide membuka usaha kopi keliling bermotor dari pelaku usaha street coffee di beberapa kota di negara Thailand dan Vietnam
Di dua negara wisata favorit di Asia itu, usaha street coffee baik yang menggunakakn roda dua maupun sepeda kaki, marak dijumpai.
Sejumlah pelaku usaha street coffee di Tahiland maupun Vietnam itu juga merupakan barista yang memiliki pekerjaan atau profesi lain.
Bahkan ada pelaku usaha street coffee di negara Asia tersebut merupakan musisi kafe, karyawan sebuah perusahaan, serta ada yang mantan karyawan kemudian resign untuk berjualan kopi ala street cofffe.
“Saya lihat-lihat juga di YouTube usaha street coffee ini. Selain simpel, juga tak butuh modal besar. Saya tak harus pusing untuk sewa ruko dan tempat segala,” tutur Dg Taba.
Modal Awal

Dg Taba memulai usaha kopi keliling (kopling) dengan modal sekitar Rp 7 juta lebih.
Menurutnya, biaya yang cukup besar hanya pada pengadaan peralatan kopi yang umumnya digunakan seorang barista
Diantaranya, alat racik bijih kopi yaitu rock presso dan pembuatan boks street coffee.
Sementara peralatan lainnya, dominan tidak terlalu mahal seperti grinder (mesin giling bijih kopi), tamper bubuk kopi, timbangan digital, dan lainnya.
Sejak memulai usaha koplingnya Tahun 2021 hingga saat ini, Dg Taba mengaku jualan kopi ala barista miliknya sudah bisa menghasilkan dan memiliki komunitas atau segmen sendiri.
Kalau ada orderan di suatu tempat atau di suatu acara, Dg Taba bisa lebih cepat pulang dibandingkan waktu pulangnya pegawai kantoran.
Kadang-kadang telat pulang juga. Katanya, tergantung situasi dan kondisi. Namun, Dg Taba tetap enjoy menikmati usaha koplingnya.
Apalagi, usia usahanya baru seumur jagung, “Jadi pelan-pelan dan sudah ada hasil yang terlihat. Tingga butuh konsistensi,” katanya.







