Dengan kata lain, share economy sudah merambah ke banyak sektor. Selain itu, model bisnis ini mencangkup model berbasis komunitas (C2C) atau melalui intermediaries (B2C).
Dengan kata lain, model bisnis share economy sangat fleksibel untuk diterapkan dalam berbagai bentuk.
Dengan model bisnis ini, seseorang tidak harus membangun hotel untuk menyewakan kamarnya; seseorang tidak perlu menjadi supir taksi untuk mendapatkan nilai tambah dari kendaraannya; atau seseorang tidak perlu membangun kios untuk berjualan.
Karena tidak memerlukan sumber daya fisik dan menekankan pada berbagi serta kolaborasi share economy dapat menciptakan ekonomi yang lebih efisien.
Contoh nyatanya adalah tarif Airbnb 30-60 persen lebih murah dibandingkan harga hotel di seluruh dunia. Selain itu, model bisnis ini menawarkan fleksibilitas dan low entry barrier bagi pekerja.
Platform Cooperative
Perkembangan share economy ini memunculkan raksasa-raksasa perusahaan teknologi yang menggurita di berbagai belahan dunia.
Perusahaan ini mengumpulkan banyak sumber daya dari masyarakat untuk dimanfaatkannya sebagai pondasi bisnisnya. Perusahaan ini menjadi perantara antara pekerja dengan konsumen.
Sistem ini memang memberikan fleksibilitas dan independensi tanpa batas akan tetapi dapat menjadi monopolistis, eksploitatif, pengontrolan oleh sebagian kecil orang, memperburuk ketidaksetaraan sistemik dan memfasilitasi pengawasan data dan pengambilan data. Sistem inilah yang disebut platform capitalism.
Trebor Scholz dalam esainya yang berjudul “Own This! A portfolio of platform cooperativism, in progress” menyebutkan dampak dari kemunculan platform capitalism ini yaitu merusak kontrak sosial, memperburuk ketimpangan sistemik, dan pengawasan kapitalisme.
Sistem ini memang memberikan manfaat bagi konsumen, pemilik, dan stockholders tetapi nilai tambah jangka panjang bagi pekerja dan konsumen masih bukan yang terbaik.







