Apple saat ini bukan perusahaan yang lagi dalam keadaan krisis.
Hanya saja kita melihat apa yang terjadi dalam efek pandemi dimana supply bahan dasar Apple banyak datang dari Tiongkok, yang sudah dalam 2 tahun ini tersendat.
Namun bukan pandemi yang jadi masalah Apple karena sebelum pandemi penjualan Apple sudah mulai menurun.
Turunnya tersebut selama 3 tahun terakhir walau tidak signifikan, tetap merupakan yang terburuk dalam 16 tahun terakhir di dalam prestasi Apple.
Tim Cook Ceo Apple menyatakan penjualan Apple menurun yang terbesar di Tiongkok dan ini berimbas ke penjualan ke seluruh dunia.
Penjualan di Tiongkok turun 29 persen diakumulasikan dalam 3 tahun terakhir ini.
Bahkan analis dari Goldman Sach mengatakan ini sebuah cerita panjang yang bisa membandingkan Apple dengan Nokia.
Yaitu, dulu Nokia bergntung pada pelanggan nokia yang meng-upgrade teleponnya, alias setiap telpon Nokia lahir baru maka ada fitur baru serta upgrade kapasitas serta modelnya.
Dimana kemudian , semakin lama pelanggan tidak terlalu aktif membelinya lagi karena tidak terlalu membutuhkan fitur baru atau kapasitas baru.
Jadi yang terjadi, dari setiap 6 bulan orang mengganti Nokia menjadi 2 tahun, bahkan baru ganti telepon lebih dari 2 tahun.
Inilah yang terjadi sekarang. Orang semakin kesini, semakin lama mengganti gadgetnya karena semua fitur ada dan handal.







