Opini: Menalar Keinginan Presiden Prabowo Membentuk 100 Batalyon

Koordinator Wakil Ketua Umum Bidang Politik, Pertahanan dan Keamanan Kadin, Andi Rahmat.(*)

Kalau meletakkan keinginan ini dalam kerangka ambisi bangsa Indonesia untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia, kita bisa menemukan jejak keterhubungan argumentasinya.

Presiden Prabowo dalam berbagai kesempatan sering sekali menyampaikan betapa besar kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia.

Kekayaan ini, dalam kurun waktu yang lama menjadi incaran bangsa-bangsa lain disebabkan lemahnya bangsa Indonesia dalam menjaga dan memanfaatkan potensi besarnya itu.

Nampak sekali keinginan pemerintahan Prabowo untuk memastikan pencapaian kemakmuran bangsa  pada saat yang sama sanggup pula dijaga dan ditopang dengan kuat oleh kekuatan militer bangsa  Indonesia sendiri.

Bacaan Lainnya

Keinginan ini tidak muluk. Berbagai peristiwa global akhir-akhir ini menunjukkan meningkatnya intensitas konflik antar negara yang berujung pada perang terbuka.

Ditambah lagi, tensi ketegangan di kawasan Indo Pasifik yang melibatkan dua kekuatan besar dunia, Amerika Serikat dan China, menjadi sumber kekhawatiran tersendiri.

Dan Indonesia, dikarenakan potensi kekayaannya yang besar dan letak geografisnya, tidak bisa terlepas dari dinamika itu.

Jika kita menilik pergeseran besar peta kekuatan ekonomi dunia, nampak jelas bahwa Asia, khususnya di kawasan  Indo Pasifik  merupakan episentrum baru bagi pergeseran kekuatan ekonomi dunia.

Di tahun 1960, Empat kekuatan ekonomi besar dunia adalah AS (USD 543 Miliar), Jerman Barat (USD 146 Miliar), Inggris (USD 73 Miliar) disusul Prancis (USD 62 Miliar). Keempatnya adalah negara-negara Barat, tiga diantaranya berada di Eropa.

Di perkirakan di tahun 2027 keadaan itu akan berubah dimana empat kekuatan ekonomi dunia berturut-turut adalah AS, China, Jepang dan India.

Pergeseran ini membawa konsekuensi pada peningkatan pergeseran proyeksi kekuatan-kekuatan dunia ke kawasan Indo Pasifik.

Penulis berkesempatan menghadiri Pameran Indo Defence yang digelar baru-baru ini. Dalam berbagai kesempatan, kami mendengar dan berdiskusi dengan banyak perwakilan militer negara-negara lain.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *